Oleh: Tgk Abdullah bin Rusli
Aceh Timur, khususnya Bumi Peureulak yang kita banggakan sebagai tempat berdirinya Kerajaan Islam Pertama di Asia Tenggara, memiliki sejarah panjang yang dibangun di atas nilai-nilai Islam, ukhuwah, dan musyawarah. Warisan besar itu semestinya menjadi pedoman dalam menghadapi setiap persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
Belakangan ini, kita menyaksikan berbagai dinamika yang memunculkan kegelisahan di tengah masyarakat. Jika situasi seperti ini tidak segera diredam melalui langkah-langkah yang bijaksana, kita khawatir kondisi daerah akan semakin sulit mencapai stabilitas yang diharapkan. Suasana yang tidak kondusif tentu akan berdampak pada pembangunan, kehidupan sosial, dan kepercayaan masyarakat terhadap berbagai pihak.
Setelah mencermati berbagai persoalan yang berkembang, terdapat beberapa hal yang patut menjadi perhatian bersama. Di antaranya masih minimnya komunikasi antarpihak, kurangnya semangat saling merangkul, belum optimalnya sinergi antara pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan elemen lainnya, serta menurunnya kepercayaan sebagian masyarakat terhadap pemerintah. Semua persoalan tersebut tentu membutuhkan penyelesaian dengan kepala dingin, bukan dengan memperpanjang polemik.
Islam telah mengajarkan bahwa persaudaraan merupakan nikmat yang harus dijaga. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10).
Ayat ini mengingatkan bahwa tugas setiap muslim bukan memperbesar perbedaan, melainkan menjadi bagian dari solusi dan menghadirkan perdamaian.
Karena itu, kami berharap para sesepuh, orang tua, ulama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta seluruh elemen yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat dapat mengambil peran untuk menenangkan keadaan. Kehadiran mereka sangat dibutuhkan sebagai penyejuk, penyambung komunikasi, dan perekat persaudaraan agar setiap persoalan dapat diselesaikan melalui dialog, musyawarah, dan semangat kebersamaan.
Pemerintah daerah juga diharapkan terus membuka ruang komunikasi yang lebih luas dengan seluruh elemen masyarakat. Kepercayaan publik dibangun melalui keterbukaan, kehadiran di tengah masyarakat, dan kesungguhan dalam mendengar aspirasi rakyat. Ketika komunikasi berjalan baik, maka berbagai kesalahpahaman dapat diminimalkan.
Sudah saatnya seluruh pihak mengutamakan kepentingan Aceh Timur di atas kepentingan kelompok maupun pribadi. Jangan sampai warisan sejarah dan nilai-nilai Islam yang menjadi kebanggaan Bumi Peureulak justru tercoreng oleh perpecahan yang sebenarnya dapat dihindari.
Semoga Allah SWT menjaga Aceh Timur, mempererat persaudaraan di antara kita, memberikan kebijaksanaan kepada para pemimpin dan tokoh masyarakat, serta menghadirkan keamanan, kedamaian, dan keberkahan bagi Bumi Serambi Makkah, tempat berdirinya Kerajaan Islam Pertama di Asia Tenggara.*
PEUREULAK, 28 Juli 2026







