Oleh: Tgk Abdullah bin Rusli
“Ngopi boleh, tetapi jangan sampai ilmu agama tertinggal”.
Warung kopi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh. Di sana orang bersilaturahmi, berdiskusi, bertukar pikiran dan membicarakan berbagai persoalan, mulai dari kehidupan sehari-hari hingga politik nasional.
Namun, ada satu hal yang patut kita renungkan: apakah waktu kita di warung kopi hanya habis untuk berbicara, atau dapat pula menjadi kesempatan untuk menambah ilmu agama?
Pertanyaan inilah yang kemudian menemukan jawabannya melalui program “Beut Sira Jep Kupi” yang dilaksanakan di Azka Kupi, Peureulak Kota. Pada Minggu malam, 9 Agustus 2026, kegiatan tersebut resmi dibuka dengan menghadirkan Tgk. Muhammad (Abi Amad Alue Lhok).
Program ini menambah warna baru bagi budaya ngopi masyarakat Peureulak. Sebelumnya, pengajian rutin telah dilaksanakan di Salim Kopi setiap Rabu awal bulan dan Oun Kupi setiap minggu ketiga setiap bulan. Kini Azka Kupi turut menjadi tempat pengajian rutin setiap malam Senin minggu kedua.
Yang menarik, setiap warung menghadirkan Teungku atau ustaz yang berbeda. Program ini merupakan ikhtiar yang digagas bersama oleh HUDA Aceh Timur, Muspika Kecamatan Peureulak, RAPI Aceh Timur, BMU Aceh Timur dan sejumlah organisasi lainnya.
ILMU AGAMA JANGAN KALAH DENGAN POLITIK
Dalam pembukaan pengajian tersebut, Abi Amad Alue Lhok menyampaikan sebuah pesan yang sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini.
Menurut beliau, sangat penting pengajian rutin diadakan di warung kopi apabila tempat dan keadaan memungkinkan. Sebab, masyarakat kita hari ini sudah terbiasa berpolitik sambil ngopi. Bahkan pembicaraan politik sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dari tingkat kampung hingga nasional.
Namun jangan sampai kita begitu bersemangat membicarakan politik, sementara ilmu tentang fardhu ‘ain yang menjadi kewajiban pribadi justru masih sangat minim.
Bagaimana ilmu kita tentang bersuci?
Bagaimana cara berwudhu yang benar?
Bagaimana syarat dan rukun shalat?
Bagaimana memastikan ibadah kita sah?
Bagaimana pemahaman kita tentang tauhid?
Bagaimana pula kita memperbaiki penyakit hati dan akhlak?
Ini adalah pertanyaan yang jauh lebih penting untuk kita jawab.
Allah SWT berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)
Ayat ini mengajarkan kepada kita agar tidak malu belajar dan bertanya ketika belum mengetahui sesuatu.
BELAJAR AGAMA ADALAH KEBUTUHAN
Sering kali kita merasa sudah cukup memahami agama karena sejak kecil sudah belajar mengaji. Padahal ilmu agama sangat luas dan kehidupan terus berubah.
Ada persoalan yang mungkin dahulu belum kita pahami. Ada pula ilmu yang pernah kita pelajari tetapi sudah lupa. Bahkan dalam masalah ibadah sehari-hari, terkadang kita baru menyadari ada sesuatu yang selama ini kurang tepat setelah mendengarkan penjelasan seorang ulama atau ustaz.
Karena itu, majelis ilmu bukan hanya untuk orang yang tidak tahu. Orang yang sudah mengetahui pun tetap membutuhkan majelis ilmu agar ilmunya terus terjaga dan bertambah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia memahamkannya tentang agama.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, ketika Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk duduk di majelis ilmu, hendaknya kita melihatnya sebagai salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada kita.
WARUNG KOPI JANGAN HANYA MENJADI TEMPAT BERDEBAT
Warung kopi tidak salah. Ngopi juga bukan sesuatu yang dilarang. Yang perlu kita perhatikan adalah untuk apa waktu itu kita gunakan.
Kalau satu atau dua jam duduk di warung kopi, alangkah indahnya apabila sebagian waktu tersebut digunakan untuk mendengarkan ilmu.
Daripada sepanjang malam membicarakan orang lain, lebih baik sesekali membicarakan bagaimana memperbaiki diri.
Daripada hanya berdebat tentang politik, lebih baik sesekali membahas bagaimana memperbaiki shalat.
Daripada sibuk menilai kesalahan orang lain, lebih baik belajar mengenali kekurangan diri sendiri.
Inilah hakikat “Beut Sira Jep Kupi”: ngopi sambil menuntut ilmu.
Bukan berarti warung kopi menggantikan masjid atau meunasah. Justru kegiatan ini dapat menjadi jalan untuk mengajak masyarakat kembali mencintai majelis ilmu.
Jika masyarakat memiliki waktu yang banyak di warung kopi, mengapa tidak sebagian waktu tersebut kita isi dengan sesuatu yang bermanfaat?
ILMU, IMAN DAN UKHUWAH
Lebih jauh lagi, ilmu agama bukan hanya berbicara tentang hukum halal dan haram. Ilmu agama juga mengajarkan bagaimana kita mengenal Allah, memperbaiki hati, menjaga akhlak, menghormati sesama dan membangun persaudaraan.
Allah SWT berfirman:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Karena itu, masyarakat yang gemar menghadiri majelis ilmu diharapkan bukan hanya menjadi masyarakat yang lebih pintar berbicara tentang agama, tetapi juga lebih baik akhlaknya, lebih benar ibadahnya dan lebih kuat persaudaraannya.
MENJADIKAN KEBIASAAN KECIL SEBAGAI AMAL BESAR
Kita tidak pernah tahu amal mana yang akan menjadi sebab turunnya rahmat Allah kepada kita.
Mungkin sebuah pengajian yang terlihat sederhana di sebuah warung kopi menjadi sebab seseorang belajar memperbaiki wudhunya.
Mungkin ada yang selama ini shalatnya belum sempurna, kemudian mendapatkan ilmu dan memperbaikinya.
Mungkin ada yang belum memahami tauhid dan akhirnya mendapatkan pemahaman yang benar.
Mungkin pula ada seseorang yang sedang jauh dari masjid, kemudian melalui pengajian di warung kopi hatinya kembali dekat dengan Allah.
Jika semua itu terjadi, maka kegiatan sederhana tersebut memiliki nilai yang sangat besar.
Maka mari kita dukung setiap usaha yang menghidupkan majelis ilmu di tengah masyarakat.
Ngopi boleh.
Berdiskusi boleh.
Membicarakan politik boleh.
Tetapi jangan sampai kita lebih banyak mengetahui perkembangan politik daripada mengetahui kewajiban agama kita sendiri.
Semoga Beut Sira Jep Kupi di Salim Kopi, Oun Kupi dan Azka Kupi terus istiqamah. Semoga semakin banyak warung kopi yang mau membuka ruang untuk pengajian dan majelis ilmu.
Karena pada akhirnya, secangkir kopi hanya menghangatkan tubuh, tetapi ilmu agama dapat menghidupkan hati.
Ngopi sambil mengaji, bersilaturahmi sambil menuntut ilmu. Semoga setiap langkah menjadi amal ibadah dan membawa keberkahan bagi masyarakat Peureulak.
PEUREULAK, 10 Agustus 2026







