Oleh : Tgk Abdullah
Memasuki hari ke-9 bulan suci Ramadhan, hati seorang mukmin seharusnya semakin lembut dan peka. Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum menyucikan jiwa serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Di fase awal yang penuh rahmat ini, setiap amal ibadah dilipatgandakan nilainya.
Rasulullah ﷺ, Muhammad bersabda bahwa siapa yang berpuasa dan menegakkan shalat malam karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Hadis ini menjadi pengingat bahwa inti dari puasa dan tarawih adalah keikhlasan. Tanpa iman dan harap hanya kepada Allah, ibadah akan terasa berat dan hampa.
Pada hari ke-9, puasa diibaratkan seperti beribadah bersama para nabi. Ini bukan sekadar kiasan, tetapi pesan moral bahwa orang yang berpuasa sedang berjalan di jejak para kekasih Allah. Ia menahan diri bukan karena manusia melihat, tetapi karena Allah Maha Melihat. Dalam kesendirian, ia tetap jujur. Dalam keletihan, ia tetap sabar.
Sementara itu, tarawih di malam ke-9 dijanjikan kemuliaan di sisi Allah. Kemuliaan itu bukan tentang pujian manusia, melainkan derajat yang ditinggikan oleh-Nya. Setiap langkah menuju masjid, setiap ayat yang didengar, setiap rukuk dan sujud adalah bentuk ketundukan total seorang hamba yang merindukan ampunan.
Opini kita hari ini sederhana: jangan biarkan Ramadhan berlalu sebagai rutinitas tahunan tanpa perubahan. Jika sembilan hari ini belum mampu mengubah akhlak kita menjadi lebih lembut, lebih sabar, dan lebih peduli, maka ada yang perlu kita benahi dalam niat dan kesungguhan.
Mari jadikan puasa sebagai latihan kejujuran, dan tarawih sebagai sarana memperkuat hubungan dengan Allah. Semoga di hari ke-9 ini, kita termasuk hamba yang tidak hanya beribadah secara lahiriah, tetapi juga menghadirkan hati sepenuhnya kepada-Nya.
Semoga Allah menerima puasa dan tarawih kita, serta memuliakan kita di dunia dan akhirat. Aamiin. 🌙







