Nasihat Adalah Cahaya Kehidupan

 

Oleh : Tgk Abdullah bin Rusli

 

Dalam kehidupan, manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan. Setinggi apa pun ilmu, sekuat apa pun jabatan, dan sehebat apa pun kedudukan seseorang, tetap membutuhkan penasehat agar tidak salah arah dalam melangkah. Sebab manusia terkadang dikuasai emosi, hawa nafsu, dan kepentingan dunia sehingga lupa mana yang benar dan mana yang keliru.

Bacaan Lainnya

 

Islam mengajarkan bahwa nasihat adalah bagian penting dalam kehidupan. Dengan nasihat, hati yang keras bisa menjadi lembut, langkah yang salah bisa kembali lurus, dan keputusan yang keliru bisa diperbaiki sebelum menimbulkan penyesalan.

 

Allah SWT berfirman:

 

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”

(QS. Az-Zariyat: 55)

 

Dalam rumah tangga, seorang istri bukan hanya pendamping hidup, tetapi juga penasehat bagi suaminya. Istri yang baik akan mengingatkan suami ketika lalai, menenangkan saat marah, serta memberi pandangan yang baik demi keselamatan dunia dan akhirat. Begitu pula suami harus menghargai nasihat istrinya, karena bisa jadi Allah menitipkan kebaikan melalui lisan seorang istri.

 

Banyak rumah tangga hancur bukan karena kekurangan harta, tetapi karena tidak adanya saling mengingatkan dalam kebaikan. Ketika suami merasa paling benar dan enggan mendengar nasihat, maka pintu kesalahan akan semakin terbuka.

 

Rasulullah SAW bersabda:

 

“Agama itu adalah nasihat.”

Para sahabat bertanya: “Untuk siapa wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.”

(HR. Muslim)

 

Begitu juga seorang pemimpin, baik pemimpin negara, daerah, organisasi, maupun masyarakat, sangat membutuhkan penasehat yang jujur dan amanah. Pemimpin yang tidak mau mendengar nasihat akan mudah terjerumus kepada kezaliman dan keputusan yang merugikan rakyat.

 

Penasehat yang baik bukan orang yang selalu memuji, tetapi orang yang berani menyampaikan kebenaran walaupun pahit. Sebab pujian berlebihan dapat membutakan hati, sedangkan nasihat yang tulus mampu menyelamatkan seseorang dari kehancuran.

 

Allah SWT berfirman:

 

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”

(QS. Ali Imran: 159)

 

Ayat ini menunjukkan bahwa bahkan Rasulullah SAW yang maksum sekalipun diperintahkan bermusyawarah. Maka manusia biasa tentu lebih membutuhkan pendapat dan nasihat dari orang-orang yang saleh, bijaksana, dan ikhlas.

 

Hari ini banyak manusia merasa tidak perlu dinasehati. Ketika diingatkan, malah marah dan tersinggung. Padahal orang yang menerima nasihat dengan lapang dada adalah tanda hati yang masih hidup. Sedangkan hati yang menolak kebenaran perlahan akan keras dan sulit menerima petunjuk.

 

Jangan malu menerima nasihat dari istri, sahabat, ulama, maupun rakyat kecil sekalipun. Karena kebenaran tidak selalu datang dari orang yang berpangkat tinggi. Bisa jadi Allah menghadirkan petunjuk melalui lisan orang-orang yang sederhana.

 

Semoga kita menjadi manusia yang ringan memberi nasihat dalam kebaikan dan lapang dada menerima nasihat demi keselamatan hidup di dunia serta kebahagiaan di akhirat kelak. Aamiin.

Pos terkait