Oleh: Tgk Abdullah bin Rusli
Di Tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan zaman, masih berdiri sebuah saksi sejarah yang mengingatkan kita tentang awal masuknya cahaya Islam ke Asia Tenggara. Di Gampong Bandrong, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, terdapat makam Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah dan istrinya Putri Meurah Mahdum Khudawi, yang dikenal sebagai pendiri Kerajaan Islam Peureulak, kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara.
Tempat ini bukan sekadar makam tua yang menyimpan kisah masa lalu. Ia adalah simbol perjuangan dakwah, pengorbanan, dan keteguhan para pendahulu dalam menegakkan agama Allah di bumi Aceh. Dari tanah inilah Islam berkembang, menyebar ke berbagai penjuru Nusantara dan Asia Tenggara, hingga menjadi agama yang dianut oleh jutaan manusia saat ini.
Sayangnya, tidak sedikit generasi muda yang mengenal sejarah bangsa lain, namun lupa terhadap sejarah Islam di tanah kelahirannya sendiri. Padahal Allah SWT berfirman:
“Maka berjalanlah kamu di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang sebelum kamu.”
(QS. Ar-Rum: 42)
Ayat ini mengajarkan bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lampau, melainkan pelajaran berharga untuk membangun masa depan. Bangsa yang melupakan sejarah akan kehilangan jati diri dan mudah terombang-ambing oleh pengaruh yang merusak akidah dan moral.
Keberadaan makam para pendiri Kerajaan Islam Peureulak hendaknya menjadi pengingat bahwa kejayaan Islam tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari iman, ilmu, dan akhlak yang mulia. Para ulama, sultan, dan masyarakat saat itu membangun peradaban dengan menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan pentingnya meneladani generasi terdahulu yang telah memberikan contoh terbaik dalam keimanan dan pengabdian kepada agama.
Oleh karena itu, menjaga situs sejarah Islam bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab seluruh umat. Kita perlu mengenalkan sejarah Islam Peureulak kepada anak-anak dan generasi muda agar mereka bangga menjadi bagian dari umat yang memiliki peradaban besar dan mulia.
Makam Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah bukan sekadar batu nisan yang berdiri di atas tanah. Ia adalah pengingat bahwa Islam pernah ditegakkan dengan perjuangan yang luar biasa. Jika para pendahulu telah berjuang membawa Islam kepada kita, maka tugas kita hari ini adalah menjaga, mengamalkan, dan mewariskannya kepada generasi yang akan datang.
“Peureulak bukan hanya sejarah Aceh, tetapi cahaya awal peradaban Islam Asia Tenggara yang wajib dijaga, dikenang, dan diwariskan.”
Penulis adalah Tgk lah Peureulak pegiat BMU Aceh timur.
