Jangan Biarkan Sedekah Menunggu Detik Terakhir

 

Oleh: Tgk Abdullah bin Rusli

 

TIDAK ada seorang pun yang pernah pulang dari alam kubur untuk mengatakan, “Seandainya aku bisa kembali, aku ingin menambah rumah, sawah, atau tabungan.” Yang selalu menjadi penyesalan adalah satu hal: mengapa dahulu terlalu sedikit beramal ketika kesempatan masih terbuka.

Bacaan Lainnya

 

Begitulah hakikat kehidupan. Manusia begitu sibuk mengejar harta, siang dan malam bekerja tanpa mengenal lelah. Namun, sering kali lupa bahwa umur tidak pernah menunggu. Kematian tidak pernah mengirim surat pemberitahuan. Ia datang kepada yang tua maupun muda, kepada yang miskin maupun kaya, tepat pada waktu yang telah Allah tetapkan.

 

Suatu hari seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling afdal?” Beliau menjawab, “Kamu bersedekah saat sehat, ketika masih kikir, masih takut miskin, dan masih berharap menjadi orang kaya. Janganlah engkau menunda hingga nyawa telah sampai di tenggorokan, lalu engkau berkata: ini untuk si Fulan dan itu untuk si Fulan. Padahal harta itu memang akan menjadi milik mereka.” (HR. Muslim).

 

Betapa dalam makna hadis ini. Rasulullah SAW tidak memuji sedekah yang diberikan ketika seseorang sudah berada di ambang kematian. Beliau justru memuji sedekah yang lahir saat hati masih bergulat dengan rasa sayang terhadap harta. Saat itulah keimanan mengalahkan kecintaan kepada dunia.

 

Ironisnya, banyak di antara kita berkata, “Nanti kalau usaha sudah besar, saya akan banyak bersedekah.” Ada pula yang berkata, “Kalau sudah kaya, saya akan membangun masjid, membantu anak yatim, dan menyantuni fakir miskin.” Padahal, tidak ada jaminan bahwa kita akan hidup sampai esok hari. Banyak orang yang berangkat bekerja pada pagi hari, namun sore harinya namanya telah diumumkan sebagai jenazah.

 

Ketika sakaratul maut tiba, semua jabatan kehilangan arti. Semua rekening bank tidak lagi mampu dibuka. Kendaraan mewah hanya menjadi barang warisan. Rumah megah tinggal dihuni orang lain. Yang tersisa hanyalah kain kafan dan catatan amal yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

 

Lebih menyedihkan lagi, pada saat itu seseorang mungkin baru berkata, “Berikan sebagian hartaku kepada masjid, kepada pesantren, kepada fakir miskin.” Namun kesempatan yang paling bernilai telah berlalu. Harta itu pada akhirnya memang akan menjadi milik ahli waris, sedangkan pahala yang dapat mengangkat derajatnya di sisi Allah telah banyak terlewat karena terlalu lama menunda.

 

Sedekah bukanlah tentang besarnya nominal, tetapi tentang ketulusan hati. Sepuluh ribu rupiah yang diberikan dengan ikhlas ketika kondisi hidup pas-pasan bisa lebih mulia di sisi Allah daripada jutaan rupiah yang dikeluarkan ketika seseorang tidak lagi memiliki pilihan selain meninggalkan hartanya.

 

Aceh memiliki sejarah panjang sebagai negeri para ulama dan para dermawan. Masjid, dayah, serta pendidikan Islam tumbuh karena ada orang-orang yang rela mengorbankan hartanya sebelum dipanggil menghadap Allah. Mereka mungkin telah lama tiada, tetapi pahala amal jariahnya terus mengalir hingga hari ini. Nama mereka dikenang bukan karena banyaknya harta yang dikumpulkan, melainkan karena banyaknya manfaat yang ditinggalkan.

 

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri. Jika malam ini Allah memanggil kita, bekal apa yang akan kita bawa? Berapa banyak anak yatim yang pernah kita bahagiakan? Berapa banyak orang lapar yang pernah kita kenyangkan? Berapa banyak rumah Allah yang pernah kita makmurkan? Dan berapa banyak ilmu yang telah kita bantu agar tetap hidup di tengah umat?

 

Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu tua untuk beramal. Jangan menunggu sakit untuk mengingat akhirat. Sebab yang Allah nilai bukanlah kapan kita meninggalkan harta, melainkan seberapa ikhlas kita menggunakannya ketika kesempatan masih ada.

 

Semoga Allah SWT melembutkan hati kita, melapangkan tangan kita untuk gemar memberi, dan menjadikan setiap rezeki yang dititipkan sebagai jalan menuju surga-Nya. Sebelum nama kita dipanggil untuk kembali kepada-Nya, semoga kita telah meninggalkan jejak kebaikan yang terus mengalir sebagai amal jariah hingga hari kiamat. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Pos terkait