Oleh: Tgk. Abdullah bin Rusli
SETIAP kali terjadi pemerkosaan, pembunuhan, penganiayaan, penyalahgunaan narkoba, maupun berbagai bentuk kejahatan lainnya di Aceh, masyarakat selalu dihebohkan. Media ramai memberitakan, warganet saling menyalahkan, dan berbagai pihak mengutuk pelaku. Namun setelah beberapa hari berlalu, semuanya kembali sunyi. Hingga akhirnya muncul lagi kasus baru yang hampir sama.
Pertanyaannya, mengapa kita hanya pandai menangisi akibat, tetapi lalai membangun sebab-sebab kebaikan?
Islam mengajarkan bahwa pencegahan jauh lebih utama daripada penyesalan. Generasi tidak lahir sebagai pelaku kejahatan. Mereka dibentuk oleh lingkungan, pendidikan, perhatian keluarga, dan masyarakat. Ketika anak-anak dibiarkan tumbuh tanpa pendidikan agama yang kuat, tanpa kasih sayang, tanpa bimbingan akhlak, maka mereka akan mudah terseret oleh hawa nafsu dan godaan dunia.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
(QS. At-Tahrim: 6).»
Ayat ini bukan hanya memerintahkan menjaga diri, tetapi juga menjaga keluarga melalui pendidikan iman, akhlak, dan ilmu agama. Orang tua, ulama, guru, pemimpin, dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama dalam menyelamatkan generasi.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim).»
Hadis ini menjadi pengingat bahwa tanggung jawab menjaga generasi bukan hanya berada di pundak pemerintah, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat.
Banyak anak yang akhirnya terjerumus ke dalam narkoba, pergaulan bebas, bahkan tindak kriminal, berasal dari keluarga yang hidup dalam keterbatasan. Kemiskinan memang bukan alasan untuk berbuat dosa, tetapi kemiskinan yang disertai hilangnya pendidikan dan perhatian sering menjadi pintu masuk bagi berbagai kejahatan. Mereka kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang yang lebih kuat dan lebih kaya untuk menjadi pelaku kejahatan, sementara yang menikmati keuntungan justru berada di belakang layar.
Lebih menyedihkan lagi, ketika seseorang telah menjadi pelaku, ia sering mencari korban yang memiliki nasib serupa dengan dirinya dahulu. Rantai kejahatan pun terus berulang karena akar persoalannya tidak pernah diselesaikan.
Oleh sebab itu, sudah saatnya umat Islam di Aceh mengubah cara berpikir. Jangan hanya sibuk menghukum setelah kejahatan terjadi, tetapi sibuklah mendidik sebelum kejahatan lahir. Bangun lebih banyak majelis ilmu, hidupkan masjid, bantu anak-anak miskin agar tetap bersekolah dan belajar agama, perkuat pendidikan akhlak di rumah, serta jadikan kepedulian sosial sebagai budaya bersama.
Aceh dikenal sebagai Serambi Makkah. Kemuliaan itu tidak cukup hanya dengan nama, tetapi harus dibuktikan dengan lahirnya generasi yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia. Jika kita benar-benar ingin melihat Aceh yang damai, maka investasi terbesar bukan hanya membangun gedung atau jalan, melainkan membangun hati dan akhlak anak-anak kita.
Mari berhenti menjadi masyarakat yang hanya pandai menangis ketika musibah telah terjadi. Jadilah umat yang bekerja sebelum bencana datang. Sebab mencegah satu kejahatan jauh lebih mulia daripada menghukum seribu pelaku.
Semoga Allah SWT membimbing kita semua untuk menjadi penjaga generasi, bukan sekadar saksi atas kerusakan yang terus berulang. Aamiin.
