“Siapa yang tidak mengasihi manusia, maka Allah tidak akan mengasihinya.” (HR. Tirmidzi)
OLEH : Tgk Abdullah
Hadist ini bukan sekadar untaian kata yang indah untuk dibaca, tetapi peringatan sekaligus pedoman hidup bagi setiap insan beriman. Di tengah kehidupan yang semakin keras, kompetitif, dan sering kali dipenuhi kepentingan pribadi, nilai kasih sayang justru menjadi sesuatu yang langka. Padahal, dalam ajaran Islam, kasih sayang adalah inti dari keimanan itu sendiri.
Allah SWT memperkenalkan diri-Nya dengan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim—Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Setiap Muslim yang membaca basmalah dalam aktivitasnya sejatinya sedang mengingat bahwa hidup ini harus dibangun di atas fondasi kasih dan sayang. Maka, menjadi hamba yang mengasihi sesama bukan hanya pilihan moral, tetapi konsekuensi dari iman.
Mengasihi manusia tidak terbatas pada memberi harta. Ia hadir dalam bentuk yang sederhana namun bermakna: menolong yang lemah, menghormati orang tua, menyantuni anak yatim, memaafkan kesalahan, hingga menjaga lisan agar tidak melukai hati orang lain. Bahkan senyuman tulus pun termasuk sedekah.
Realitas sosial hari ini menunjukkan betapa mudahnya manusia saling mencaci, memfitnah, dan merendahkan, terutama di ruang-ruang digital. Tanpa sadar, kita menjadi kikir dalam empati. Kita cepat menghakimi, tetapi lambat memahami. Di sinilah hadis Nabi ﷺ tersebut menggugah kesadaran: bagaimana mungkin kita berharap kasih sayang Allah turun, jika kepada sesama manusia saja kita enggan berbagi rasa?
Kasih sayang bukan tanda kelemahan. Justru ia adalah kekuatan ruhani. Ia mampu melembutkan hati yang keras, menyatukan yang terpecah, dan menumbuhkan harapan di tengah kesulitan. Dalam keluarga, kasih sayang melahirkan ketenangan. Dalam masyarakat, ia melahirkan persatuan. Dalam bangsa, ia menghadirkan kedamaian.
Sudah saatnya kita menjadikan kasih sayang sebagai gerakan nyata, bukan sekadar slogan. Mulailah dari lingkungan terdekat: keluarga, tetangga, sahabat, dan masyarakat sekitar. Jangan menunggu kaya untuk berbagi. Jangan menunggu sempurna untuk peduli. Karena sesungguhnya, rahmat Allah sangat dekat dengan hamba-hamba yang penuh kasih.
Semoga kita termasuk golongan yang menebar kasih di bumi, agar layak menerima kasih dari langit. Aamiin.







