Oleh: Tgk Abdullah bin Rusli
ANAK yatim bukanlah anak yang memilih untuk kehilangan ayah atau ibunya. Mereka adalah anak-anak yang sedang menjalani ketetapan Allah dengan segala keterbatasan dan kesedihan yang mungkin tidak selalu mampu mereka ungkapkan.
Karena itu, Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kehidupan anak yatim. Mereka bukan untuk direndahkan, dihardik, apalagi diperlakukan dengan kasar. Sebaliknya, mereka harus dihormati, disayangi, dilindungi, dan dibantu sesuai dengan kemampuan kita.
Allah SWT berfirman:
«“Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.”
(QS. Ad-Duha: 9)»
Ayat ini mengandung pesan yang sangat dalam. Jangan sampai seorang anak yang telah kehilangan salah satu tempat berlindungnya justru mendapatkan perlakuan yang membuat hatinya semakin terluka.
Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita melihat anak yatim melakukan kesalahan sebagaimana anak-anak lainnya. Mereka mungkin nakal, kurang disiplin, atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita. Namun, kesalahan seorang anak tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk menghardik dan merendahkannya.
Menegur boleh, tetapi lakukan dengan kasih sayang.
Menasihati boleh, tetapi jangan menghina.
Mendidik boleh, tetapi jangan menyakiti hati.
Allah SWT bahkan menyebut tindakan menghardik anak yatim sebagai sesuatu yang sangat serius. Dalam Surah Al-Ma’un, Allah berfirman:
«“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim.”
(QS. Al-Ma’un: 1–2)»
Peringatan tersebut seharusnya menjadi bahan renungan bagi kita semua. Jangan sampai ibadah yang kita lakukan hanya tampak dalam hubungan kita kepada Allah, sementara dalam hubungan sosial kita justru menyakiti orang-orang yang lemah dan membutuhkan perhatian.
Rasulullah ﷺ juga memberikan kabar gembira kepada orang yang peduli terhadap anak yatim. Beliau bersabda:
«“Aku dan orang yang menanggung anak yatim akan seperti ini di surga,”»
kemudian beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah serta sedikit merenggangkan keduanya.
(HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan orang yang mau menanggung dan memperhatikan kehidupan anak yatim.
Namun, kepedulian kepada anak yatim tidak selalu harus berupa harta yang besar. Senyuman, sapaan yang lembut, makanan, pakaian, biaya pendidikan, perhatian, bahkan sekadar mendengarkan keluh kesah mereka pun dapat menjadi bentuk kasih sayang yang berarti.
Kita tidak pernah tahu apa yang tersimpan di dalam hati seorang anak yatim.
Bisa jadi ketika kita membentaknya, ia teringat bahwa dirinya sudah tidak memiliki ayah atau ibu yang dapat membelanya. Bisa jadi perkataan yang menurut kita sederhana justru menjadi luka yang mereka bawa hingga dewasa.
Oleh sebab itu, marilah kita menjaga lisan dan perbuatan.
Jangan hardik anak yatim. Jangan mempermalukan mereka. Jangan membuat mereka merasa berbeda dan tidak berharga.
Jika mereka salah, tuntunlah. Jika mereka lemah, kuatkanlah. Jika mereka kekurangan, bantulah. Jika mereka bersedih, hiburlah.
Sebab anak yatim bukan sekadar bagian dari masyarakat yang harus kita kasihi. Mereka juga merupakan amanah sosial yang menguji sejauh mana kepedulian dan kepekaan hati kita terhadap sesama.
Pada akhirnya, ukuran kemuliaan seseorang bukan hanya seberapa banyak ia memiliki harta, tetapi juga seberapa banyak kebaikan yang mampu ia berikan kepada mereka yang membutuhkan.
Mari kita jadikan kepedulian terhadap anak yatim sebagai bagian dari akhlak dan keimanan kita.
Jangan biarkan mereka tumbuh dengan luka karena perkataan kita. Biarkan mereka tumbuh dengan kasih sayang, pendidikan, perhatian, dan harapan.
Semoga Allah SWT melembutkan hati kita, menjauhkan kita dari sikap zalim kepada anak yatim, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang memperoleh kemuliaan bersama Rasulullah ﷺ di surga.
Wallahu a’lam bish-shawab.







