Oleh: Tgk Abdullah bin Rusli
PEUREULAK bukan sekadar nama yang tercatat dalam lembaran sejarah. Ia adalah tonggak penting peradaban Islam di Nusantara, tempat cahaya Islam mulai menyinari bumi Aceh dan kemudian menyebar ke berbagai penjuru kepulauan. Karena itu, Peureulak tidak layak hanya dikenang sebagai masa lalu, tetapi harus diwariskan sebagai kebanggaan dan pelajaran bagi generasi masa depan.
Diyakini bahwa pada 1 Muharram 225 Hijriah (840 Masehi), Kerajaan Peureulak resmi berdiri sebagai kerajaan Islam di bawah kepemimpinan Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah. Dengan demikian, 1 Muharram 1448 Hijriah atau 16 Juni 2026 menjadi momentum penting memperingati 1223 tahun berdirinya Kesultanan Peureulak.
Peringatan hari lahir Kesultanan Peureulak selama ini memang rutin dilaksanakan. Namun, pertanyaan yang patut direnungkan bersama adalah: apakah peringatan tersebut cukup berhenti pada seremoni, pidato, dan doa semata?
Allah SWT berfirman:
“Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang sebelum kamu.”
(QS. Ar-Rum: 42)
Ayat ini mengajarkan bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dipelajari agar menjadi pelajaran bagi kehidupan masa kini dan masa depan.
Karena itu, peringatan hari jadi Kesultanan Peureulak seharusnya menjadi momentum kebangkitan. Situs-situs sejarah perlu dipugar dan ditata dengan baik, kajian akademik harus diperkuat, fasilitas pendukung perlu dilengkapi, serta kawasan bersejarah ini harus dikembangkan menjadi pusat wisata edukasi dan peradaban Islam yang membanggakan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang melaksanakannya.”
(HR. Muslim)
Menjaga dan menghidupkan warisan Islam adalah bagian dari menunjukkan kebaikan kepada generasi yang akan datang. Jika sejarah Peureulak dirawat dengan baik, maka anak cucu kita akan mengenal jati dirinya, memahami perjuangan para ulama dan sultan terdahulu, serta memiliki kebanggaan terhadap identitas keislaman dan keacehan mereka.
Alhamdulillah, harapan besar masyarakat mendapat angin segar dengan adanya dukungan dari Pemerintah Kabupaten Aceh Timur. Komitmen untuk memugar situs sejarah, memperkuat penelitian, dan menjadikan Peureulak sebagai destinasi wisata sejarah Islam merupakan langkah nyata yang patut diapresiasi.
Jangan biarkan Peureulak hanya hidup dalam spanduk, pidato, dan peringatan tahunan. Peradaban besar tidak cukup dikenang, tetapi harus dirawat, dipelajari, dan diwariskan. Jika itu dilakukan, maka Peureulak akan tetap hidup, bukan hanya dalam buku sejarah, tetapi juga dalam hati dan kehidupan generasi masa depan.
“Menjaga Peureulak bukan sekadar merawat peninggalan masa lalu, tetapi menyiapkan cahaya peradaban untuk masa depan.”
PEUREULAK, 13 Juni 2026







