“Masjid Tua Baitul Qadim MONISA Bukan Sekadar Bangunan, Tetapi Saksi Sejarah Islam di Peureulak”
Oleh: Tgk Abdullah bin Rusli
Masjid bukan hanya tempat menunaikan salat, tetapi juga menjadi pusat lahirnya peradaban Islam. Dari masjid, dakwah disampaikan, ilmu diajarkan, persaudaraan dipererat, dan nilai-nilai keislaman diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, menjaga masjid tua berarti menjaga identitas sejarah dan perjuangan umat Islam.
Di kawasan Monumen Islam Asia Tenggara (MONISA) Desa Paya Meuligoe, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, berdiri Masjid Baitul Qadim, yang menurut keterangan sejumlah pakar sejarah dibangun sekitar tahun 1935. Masjid ini menjadi salah satu saksi perjalanan panjang perkembangan Islam di kawasan Peureulak. Bahkan disebut sebagai lokasi ketiga setelah dua masjid terdahulu yang pernah berdiri di sekitar kawasan MONISA.
Kini, usia bangunan yang telah mendekati satu abad mulai memperlihatkan perubahan. Warna dinding yang semakin kusam dan beberapa bagian bangunan yang menua menjadi pengingat bahwa warisan sejarah membutuhkan perhatian bersama. Bila tidak dirawat sejak sekarang, bukan mustahil jejak sejarah itu akan hilang ditelan zaman.
Allah SWT berfirman:
> “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.”
(QS. At-Taubah: 18).
Memakmurkan masjid tidak hanya dengan memperbanyak ibadah, tetapi juga menjaga keberadaan dan kelestariannya agar tetap menjadi tempat yang nyaman bagi generasi sekarang dan yang akan datang.
Di Kecamatan Peureulak sendiri dikenal memiliki beberapa masjid tua yang menjadi bagian penting sejarah Islam, di antaranya Masjid Baitul Qadim di Desa Paya Meuligoe, masjid tua di Desa Tualang, dan masjid tua di Desa Pasir Putih. Ketiganya merupakan aset sejarah yang patut dijaga sebagai warisan peradaban Islam di Aceh.
Pelestarian masjid-masjid tua bukan sekadar pekerjaan pemerintah atau sejarawan. Ini adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Melalui gotong royong, perhatian terhadap perawatan bangunan, pendokumentasian sejarah, hingga pengenalan kepada generasi muda, kita dapat memastikan bahwa warisan para ulama dan pendahulu tidak hilang begitu saja.
Masjid-masjid tua adalah saksi bisu perjuangan dakwah. Batu-batu yang tersusun di dalamnya menyimpan kisah keikhlasan, pengorbanan, dan semangat menyebarkan Islam. Jangan sampai generasi mendatang hanya mengenalnya melalui cerita, sementara bangunannya telah lenyap karena kelalaian kita.
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita semua untuk menjaga rumah-rumah-Nya, melestarikan peninggalan para pendahulu, serta menjadikan setiap ikhtiar tersebut sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga akhir zaman. Aamiin.
PEUREULAK, 15 Juli 2026







