Oleh: Tgk Abdullah bin Rusli
Di zaman hari ini, manusia semakin mudah berbicara namun semakin sulit mendengar. Media sosial dipenuhi perdebatan, majelis dipenuhi saling menyalahkan, bahkan sesama saudara seiman terkadang terpecah hanya karena perbedaan pendapat yang sebenarnya kecil di sisi Allah. Banyak orang lebih sibuk mencari kemenangan dalam berbicara daripada mencari kebenaran dalam agama.
Padahal Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi pribadi yang gemar berbantah-bantahan. Rasulullah ﷺ mengajarkan kelembutan, adab, dan ketenangan dalam menyampaikan nasihat. Sebab perdebatan yang tidak dilandasi ilmu dan akhlak hanya akan melahirkan kebencian, dendam, serta hilangnya persaudaraan.
Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.”
(QS. Al-Anfal: 46)
Ayat ini sangat dalam maknanya. Ketika umat Islam sibuk saling menyerang, maka kekuatan umat akan hancur sedikit demi sedikit. Persatuan hilang, ukhuwah rusak, dan musuh akan mudah tertawa melihat kaum muslimin saling menjatuhkan.
Hari ini kita melihat sendiri bagaimana seseorang rela menghina saudaranya hanya demi dianggap paling benar. Ada yang memotong pembicaraan orang lain, mempermalukan di depan umum, bahkan menggunakan ayat dan hadis bukan untuk menasihati, tetapi untuk menyerang. Inilah penyakit hati yang sangat berbahaya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Aku menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar.”
Hadis ini mengajarkan bahwa menjaga hati manusia dan menjaga persaudaraan terkadang lebih mulia daripada memenangkan ego pribadi. Tidak semua kesalahan harus dibalas dengan kemarahan. Tidak semua perbedaan harus dipertengkarkan.
Orang yang berilmu sejati biasanya lebih tenang dalam berbicara. Ia tidak tergesa-gesa menghukumi, tidak mudah mencaci, dan tidak haus pujian manusia. Sebaliknya, orang yang dangkal ilmunya sering menjadikan perdebatan sebagai panggung untuk meninggikan dirinya sendiri.
Islam memang membolehkan dialog dan diskusi, namun dengan syarat dilakukan dengan cara yang baik, santun, dan bertujuan mencari kebenaran. Bukan untuk mempermalukan lawan, bukan untuk mencari pengikut, dan bukan pula demi popularitas.
Hari ini umat tidak kekurangan orang pintar berbicara, tetapi sangat membutuhkan orang yang mampu menjaga akhlak ketika berbicara. Karena lidah yang tidak dijaga bisa lebih tajam daripada pedang.
Maka marilah kita belajar menahan diri. Jika sebuah perdebatan hanya membawa kebencian, lebih baik diam. Jika sebuah ucapan hanya menambah permusuhan, lebih baik ditinggalkan. Karena belum tentu orang yang paling keras suaranya adalah orang yang paling dekat dengan Allah.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang lembut lisannya, tenang hatinya, dan kuat menjaga persaudaraan sesama muslim. Aamiin.
