Oleh: Tgk Abdullah bin Rusli
SUATU hari nanti, ketika dunia telah berakhir dan manusia berdiri sendiri di hadapan Allah SWT, tidak ada lagi jabatan yang bisa dibanggakan, tidak ada harta yang bisa menyelamatkan, tidak ada nama besar yang mampu menolong. Yang tersisa hanyalah amal dan pertanggungjawaban.
Di antara pesan yang harus selalu kita renungkan adalah tentang persaudaraan. Sebuah pertanyaan yang menggugah hati: “Ma ikhwanuka… siapa saudaramu?”
Mungkin selama hidup kita sering mengatakan bahwa kita bersaudara. Namun, apakah kita benar-benar merasakan sakitnya saudara kita yang kelaparan? Apakah kita peduli dengan anak yatim yang kehilangan kasih sayang? Apakah kita melihat kesedihan keluarga fakir miskin yang berjuang bertahan dalam keterbatasan?
Kadang kita terlalu sibuk mengejar kebahagiaan sendiri, sementara di sekitar kita ada hati yang sedang menangis diam-diam. Ada rumah yang hampir roboh, ada anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan, ada keluarga yang hanya berharap ada tangan yang mau membantu.
Allah SWT berfirman:
“Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin…”
(QS. An-Nisa: 36)
Ayat ini mengingatkan bahwa iman bukan hanya tentang ibadah kepada Allah, tetapi juga tentang kepedulian kepada manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit.”
(HR. Muslim)
Seorang mukmin tidak boleh merasa cukup ketika saudaranya masih dalam kesulitan. Sebab bisa jadi, pertolongan kecil yang kita anggap biasa, justru menjadi sebab Allah memberikan pertolongan besar kepada kita di akhirat.
Tgk Abdullah bin Rusli, Ketua BMU Aceh Timur, terus mengingatkan bahwa perjuangan membantu umat bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi sebuah tanggung jawab iman. Menolong sesama adalah cara kita membuktikan bahwa kita benar-benar memahami makna persaudaraan dalam Islam.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Jika hari ini Allah bertanya, “Siapa saudaramu?”
Apakah kita mampu menjawab dengan penuh keyakinan:
“Saudaraku adalah kaum muslimin dan muslimat, mereka yang membutuhkan kepedulian dan kasih sayang kami.”
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang ringan tangan membantu, lembut hati melihat kesulitan orang lain, dan dikumpulkan bersama orang-orang yang saling mencintai karena Allah.
Karena mungkin suatu saat nanti, bukan kita yang mencari pertolongan… tetapi kebaikan yang pernah kita tanam yang datang menolong kita.
Aceh Timur, 23 Juni 2026







