Ketika Amanah KeKhalifahan Dilupakan : Sebuah Kesedihan untuk Manusia

 

Oleh: Tgk Abdullah bin Rusli

 

Ada satu ayat dalam Al-Qur’an yang jika direnungkan dengan hati yang jernih, akan menghadirkan rasa haru bahkan kesedihan yang mendalam. Ayat itu adalah ketika Allah SWT mengabarkan kepada para malaikat tentang rencana penciptaan manusia.

Bacaan Lainnya

 

Allah SWT berfirman :

 

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, padahal kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-Baqarah: 30)

 

Ayat ini bukan sekadar kisah awal penciptaan Nabi Adam AS. Ayat ini adalah cermin bagi seluruh manusia hingga akhir zaman.

 

Malaikat bertanya tentang manusia yang akan merusak bumi dan menumpahkan darah. Hari ini, setelah ribuan tahun berlalu, kita menyaksikan sendiri bagaimana pertanyaan malaikat itu seolah menjadi kenyataan. Peperangan terjadi di berbagai tempat. Manusia saling membenci karena perbedaan kepentingan. Kezaliman merajalela. Korupsi merampas hak rakyat. Alam dirusak tanpa belas kasihan. Bahkan hubungan persaudaraan sering hancur hanya karena urusan dunia yang sementara.

 

Sungguh menyedihkan.

 

Padahal Allah menciptakan manusia bukan untuk menjadi perusak, melainkan sebagai khalifah, pemakmur bumi, pembawa rahmat, dan penegak keadilan.

 

Lebih menyedihkan lagi, banyak manusia yang lupa mengapa dirinya diciptakan. Mereka sibuk mengejar dunia hingga melupakan amanah yang diberikan Allah. Jabatan digunakan untuk menindas. Kekayaan digunakan untuk bermegah-megahan. Ilmu digunakan untuk mencari pujian. Bahkan agama terkadang dijadikan alat untuk menyerang sesama.

 

Padahal semua itu hanyalah titipan yang kelak akan dipertanggungjawabkan.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

 

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hadis ini mengingatkan bahwa setiap manusia adalah khalifah dalam lingkupnya masing-masing. Namun berapa banyak yang benar-benar menyadari amanah tersebut?

 

Ketika seorang anak durhaka kepada orang tuanya, amanah itu terlupakan.

 

Ketika seorang suami menzalimi keluarganya, amanah itu terlupakan.

 

Ketika seorang pemimpin mengkhianati rakyatnya, amanah itu terlupakan.

 

Ketika orang kaya menutup mata terhadap penderitaan fakir miskin, amanah itu terlupakan.

 

Ketika sesama muslim saling menjatuhkan dan bermusuhan, amanah itu terlupakan.

 

Yang lebih menyedihkan lagi, umur manusia terus berkurang setiap hari, sementara kesadaran akan tugas sebagai khalifah semakin memudar. Kita sibuk menghitung harta yang bertambah, tetapi jarang menghitung dosa yang menumpuk. Kita cemas kehilangan dunia, tetapi tidak cemas kehilangan ridha Allah SWT.

 

Padahal suatu hari nanti, semua manusia akan kembali kepada Allah. Jabatan akan ditinggalkan. Kekayaan akan diwariskan. Rumah dan tanah akan menjadi milik orang lain. Yang tersisa hanyalah amal dan pertanggungjawaban atas amanah yang pernah dipikul.

 

Allah SWT berfirman:

 

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)

 

Ayat ini seakan menjadi saksi bahwa kerusakan yang terjadi bukan karena kurangnya nikmat Allah, tetapi karena manusia melupakan tugas sucinya sebagai khalifah.

 

Karena itu, sebelum terlambat, marilah kita kembali merenungkan pertanyaan malaikat dan jawaban Allah SWT. Allah mengetahui potensi kebaikan yang ada dalam diri manusia. Allah mengetahui bahwa di antara manusia akan lahir para nabi, ulama, syuhada, orang-orang saleh, dan hamba-hamba yang membawa manfaat bagi alam semesta.

 

Pertanyaannya, apakah kita akan menjadi bagian dari mereka yang menjaga amanah itu, atau justru menjadi bagian dari mereka yang mengkhianatinya?

 

Semoga hati kita tersentuh untuk kembali kepada tujuan penciptaan kita, menjadi khalifah yang menghadirkan kebaikan, sebelum tiba hari ketika tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki diri.

 

Wallahu a’lam bish-shawab🙏

Pos terkait