Oleh : Tgk Abdullah bin Rusli
Di sebuah desa yang tenang bernama Paya Meuligoe, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, berdiri sebuah makam yang menyimpan sejarah besar tentang perjalanan Kesultanan Islam di tanah Aceh. Di sanalah bersemayam Sultan Mahdum Alaidin Abdullah Syah, seorang pemimpin yang menjadi bagian penting dalam mata rantai sejarah Kerajaan Islam Peureulak yang pernah berjaya dan disegani di Nusantara.
Namun sangat disayangkan, seiring berjalannya waktu, semakin sedikit generasi muda yang mengenal nama beliau. Padahal Sultan Mahdum Alaidin Abdullah Syah bukan hanya seorang raja, tetapi juga merupakan ayahanda dari Banta Ahmad yang makamnya berada di Desa Bhom Lama serta ayahanda dari Putri Nurul A’la yang makamnya berada di Krueng Tuan. Ketiga makam tersebut merupakan bukti nyata keberadaan keluarga kerajaan yang pernah menjadi bagian penting dalam sejarah Aceh dan perkembangan Islam di Asia Tenggara.
Ketika kita berziarah atau berdiri di hadapan makam para sultan, sesungguhnya kita sedang membaca lembaran sejarah yang ditulis oleh para pendahulu. Mereka telah pergi meninggalkan dunia, namun perjuangan, pengorbanan, dan warisan peradaban yang mereka bangun masih dapat kita rasakan hingga hari ini.
Aceh dahulu dikenal sebagai Seuramoe Makkah, sebuah gelar yang lahir bukan sekadar karena letak geografisnya, tetapi karena Aceh menjadi pusat penyebaran Islam, pusat pendidikan agama, dan tempat lahirnya para ulama serta pemimpin yang menjaga marwah agama dan bangsa. Para sultan tidak hanya memimpin pemerintahan, tetapi juga menjadi pelindung dakwah dan ilmu pengetahuan.
Makam Sultan Mahdum Alaidin Abdullah Syah di Paya Meuligoe, makam Banta Ahmad di Bhom Lama, serta makam Putri Nurul A’la di Krueng Tuan seharusnya menjadi bagian dari jejak sejarah yang terus diperkenalkan kepada masyarakat. Situs-situs bersejarah ini bukan hanya milik keluarga tertentu, melainkan milik seluruh rakyat Aceh sebagai warisan peradaban yang harus dijaga dan dilestarikan.
Jika generasi hari ini tidak lagi mengenal para sultan dan tokoh yang pernah membangun negeri ini, maka perlahan sejarah akan terkubur bersama waktu. Anak cucu kita kelak mungkin hanya mendengar nama-nama besar dari negeri lain, sementara tokoh-tokoh besar dari tanahnya sendiri terlupakan.
Karena itu, sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga, merawat, meneliti, dan memperkenalkan kembali sejarah para raja Aceh kepada masyarakat luas. Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi cermin untuk memahami jati diri dan arah masa depan bangsa.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepada Sultan Mahdum Alaidin Abdullah Syah, Banta Ahmad, Putri Nurul A’la, serta seluruh sultan, ulama, dan pejuang Aceh yang telah mewariskan peradaban Islam kepada generasi setelahnya.
Jangan biarkan makam-makam para sultan hanya menjadi batu dan tanah yang sunyi. Jadikanlah ia sebagai pengingat bahwa Aceh pernah melahirkan pemimpin-pemimpin besar yang mengabdikan hidupnya untuk agama, bangsa, dan umat.
“Sejarah yang dijaga akan menjadi cahaya bagi masa depan, namun sejarah yang dilupakan akan menjadi kehilangan yang tak tergantikan.”
Sekian…..







