Hindari Marah, Karena Kemarahan Dapat Mengubah Wajah dan Merusak Hati

 

Oleh: Tgk Abdullah bin Rusli

 

PEUREULAK — Marah merupakan salah satu sifat yang perlu dikendalikan oleh setiap Muslim. Kemarahan yang tidak terkendali bukan hanya dapat merusak hubungan dengan orang lain, tetapi juga dapat membawa seseorang kepada perkataan dan perbuatan yang disesali kemudian.

Bacaan Lainnya

 

Dalam sebuah pengajian bersama Tgk H. Muhammad Yusuf, yang akrab disapa Khali Dayah Leuge Perlak, jamaah diajak untuk senantiasa menghindari sifat marah, baik ketika berada di rumah maupun di luar rumah.

 

Beliau mengingatkan bahwa ketika seseorang sedang marah, hendaknya segera berusaha menenangkan diri dan tidak mengikuti dorongan emosi. Salah satu amalan yang dianjurkan adalah membaca:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“A‘ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm.”

 

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”

 

Selain itu, memperbanyak selawat, zikir dan doa juga dapat menjadi jalan untuk menenangkan hati serta mengingatkan diri agar tidak dikuasai oleh amarah.

 

Allah Memuji Orang yang Mampu Menahan Amarah

 

Allah SWT berfirman:

 

“…orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

(QS. Ali ‘Imran: 134)

 

Ayat ini memberikan pelajaran bahwa kemuliaan seorang Muslim bukanlah diukur dari seberapa keras ia membalas ketika disakiti, tetapi dari kemampuannya mengendalikan diri dan memberikan maaf.

 

Orang Kuat Bukan yang Menang dalam Perkelahian

 

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Dalam hadis lainnya, ketika seorang sahabat meminta nasihat, Rasulullah ﷺ menjawab:

 

“Jangan marah.”

(HR. Bukhari)

 

Pesan tersebut sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Mengendalikan marah membutuhkan kekuatan hati, kesabaran dan kesadaran bahwa Allah SWT selalu melihat setiap perkataan dan perbuatan kita.

 

Coba Lihat Wajah Saat Sedang Marah

 

Ada satu pesan menarik yang disampaikan dalam pengajian tersebut. Menurut Tgk H. Muhammad Yusuf, jika seseorang ingin mengetahui bagaimana wajahnya ketika sedang marah, cobalah berdiri di depan cermin saat emosi sedang memuncak.

 

Kita akan melihat sendiri perubahan ekspresi wajah ketika marah. Tatapan menjadi tajam, wajah menegang, suara meninggi dan raut muka dapat terlihat menakutkan.

 

Pesan tersebut bukan bermaksud merendahkan orang yang sedang marah, tetapi menjadi sebuah renungan agar kita sadar bahwa kemarahan sering kali membuat seseorang kehilangan ketenangan dan keindahan akhlaknya.

 

Karena itu, sebelum kemarahan membawa kita kepada perkataan yang menyakitkan atau tindakan yang merugikan, sebaiknya kita segera berhenti, diam, berzikir dan memohon perlindungan kepada Allah SWT.

 

Marah Boleh Datang, Tetapi Jangan Dipelihara

 

Sebagai manusia, rasa marah mungkin saja muncul. Namun, seorang Muslim diajarkan agar tidak membiarkan kemarahan menguasai dirinya.

 

Ketika marah kepada pasangan, anak, saudara, tetangga ataupun orang lain, ingatlah bahwa satu kalimat yang keluar ketika emosi bisa meninggalkan luka yang sangat lama.

 

Maka, ketika hati mulai panas, jangan terburu-buru berbicara. Jangan terburu-buru membalas. Jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi.

 

Berwudhulah, duduklah jika sedang berdiri, diam sejenak, membaca isti’adzah, memperbanyak selawat dan zikir, kemudian berdoalah kepada Allah agar hati diberikan ketenangan.

 

Pada akhirnya, orang yang mampu menahan marah bukanlah orang yang lemah. Justru ia adalah orang yang sedang menunjukkan kekuatan dirinya.

 

Semoga kita semua menjadi hamba Allah yang mampu mengendalikan amarah, mudah memaafkan, lembut dalam berbicara dan senantiasa menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

 

Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari sifat pemarah, memberikan kesabaran, serta menjadikan kita orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Pos terkait