JANGAN MATI KECUALI DALAM KEADAAN BERBAIK SANGKA KEPADA ALLAH

 

Oleh: Tgk Abdullah bin Rusli

 

DALAM kehidupan, manusia tidak pernah luput dari ujian. Ada saatnya kita diberi kelapangan, kesehatan, rezeki dan kebahagiaan. Namun ada pula masa ketika kita diuji dengan kesulitan, kehilangan, sakit, kemiskinan, kegagalan bahkan perpisahan dengan orang-orang yang kita cintai.

Bacaan Lainnya

 

Di tengah berbagai ujian tersebut, seorang Muslim harus menjaga satu perkara yang sangat penting, yaitu husnuzan atau berbaik sangka kepada Allah SWT.

 

Rasulullah SAW mengingatkan kita:

 

“Janganlah salah seorang dari kalian mati melainkan dalam kondisi berbaik sangka terhadap Allah.”

(HR. Ibnu Majah)

 

Hadis ini mengajarkan kepada kita betapa pentingnya menjaga prasangka baik kepada Allah, bahkan hingga detik-detik terakhir kehidupan.

 

Berbaik sangka kepada Allah bukan berarti kita menutup mata terhadap kesulitan. Bukan pula berarti kita tidak boleh menangis ketika mendapat musibah. Akan tetapi, di balik air mata dan rasa sakit itu, hati tetap yakin bahwa Allah SWT Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

 

Allah SWT berfirman:

 

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah: 216)

 

Ayat ini menjadi pengingat bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas. Kita hanya melihat apa yang terjadi hari ini, sementara Allah mengetahui seluruh perjalanan hidup kita, bahkan apa yang akan terjadi di masa depan.

 

Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah

 

Terkadang seseorang merasa hidupnya terlalu berat. Masalah datang silih berganti, doa seakan belum mendapatkan jawaban, rezeki terasa sempit dan jalan keluar belum terlihat.

 

Dalam keadaan seperti itu, jangan sampai seorang Muslim berputus asa dari rahmat Allah.

 

Allah SWT berfirman:

 

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.”

(QS. Yusuf: 87)

 

Karena itu, ketika doa belum dikabulkan sesuai keinginan, jangan buru-buru menganggap Allah tidak menyayangi kita. Bisa jadi Allah sedang mengatur sesuatu yang belum mampu kita pahami.

 

Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis qudsi:

 

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hadis ini memberikan pelajaran besar. Seorang hamba hendaknya selalu berharap kepada Allah, memohon ampunan-Nya, mengharapkan rahmat-Nya dan yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba yang bersungguh-sungguh mendekat kepada-Nya.

 

Husnuzan Bukan Berarti Meninggalkan Ikhtiar

 

Berbaik sangka kepada Allah bukan alasan untuk bermalas-malasan. Seorang Muslim tetap wajib berusaha, berdoa dan bertawakal.

 

Jika sakit, kita berobat sambil memohon kesembuhan kepada Allah. Jika miskin, kita berusaha mencari rezeki yang halal sambil yakin bahwa rezeki berada dalam ketentuan Allah. Jika menghadapi persoalan, kita mencari jalan keluar tanpa kehilangan harapan kepada-Nya.

 

Rasulullah SAW bersabda:

 

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu lemah.”

(HR. Muslim)

 

Inilah keseimbangan dalam kehidupan seorang Muslim: ikhtiar dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan penuh harap, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

 

Jangan Membawa Putus Asa Sampai ke Liang Kubur

 

Kematian adalah sesuatu yang pasti. Tidak ada manusia yang mengetahui kapan ajalnya tiba.

 

Karena itu, sebelum ajal menjemput, mari kita bersihkan hati dari kebencian, iri hati dan keputusasaan. Perbanyak istighfar, perbaiki hubungan dengan sesama manusia, tunaikan kewajiban kepada Allah dan tanamkan keyakinan bahwa rahmat Allah jauh lebih luas daripada dosa dan kesalahan kita.

 

Rasulullah SAW bersabda:

 

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat dosa pada siang hari bertobat, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang berbuat dosa pada malam hari bertobat.”

(HR. Muslim)

 

Maka jangan pernah mengatakan, “Dosa saya sudah terlalu banyak, Allah pasti tidak akan mengampuni.”

 

Selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan kesempatan bertobat masih terbuka, pintu rahmat Allah tetap harus kita harapkan.

 

Pada akhirnya, kehidupan ini bukan tentang seberapa banyak masalah yang kita hadapi, tetapi tentang bagaimana kita mempertahankan iman ketika masalah itu datang.

 

Boleh jadi hari ini kita menangis, tetapi Allah sedang menyiapkan kebahagiaan yang belum kita ketahui. Boleh jadi hari ini kita kehilangan sesuatu, tetapi Allah sedang mengajarkan kita untuk bergantung hanya kepada-Nya. Boleh jadi jalan terasa sempit, tetapi pertolongan Allah dapat datang dari arah yang tidak pernah kita sangka.

 

Maka jangan buruk sangka kepada Allah.

 

Jika hidup sedang berat, dekatilah Allah. Jika rezeki sedang sempit, jangan berhenti berdoa. Jika dosa terasa banyak, segera bertobat. Jika kematian semakin dekat, berharaplah kepada rahmat Allah.

 

Semoga ketika tiba waktunya kita meninggalkan dunia ini, hati kita berada dalam keadaan tenang, penuh iman, penuh harap dan berbaik sangka kepada Allah SWT.

 

Allahumma inni as’aluka husnal khatimah.

 

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami akhir kehidupan yang baik, ampuni dosa-dosa kami, terimalah amal ibadah kami, dan jangan Engkau wafatkan kami kecuali dalam keadaan beriman serta berbaik sangka kepada-Mu.

 

Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Pos terkait