Tangis Krueng Pasee: Muara Bersejarah yang Dilupakan, Nelayan Terjebak Menunggu Pasang demi Bertahan Hidup

 

Indonesia Investigasi 

ACEH UTARA— Harapan sempat menyala ketika Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merespons permintaan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, untuk mengatasi sedimentasi yang kian parah di sejumlah muara sungai dan pelabuhan perikanan. Sebanyak 13 titik direncanakan menjadi prioritas penanganan, mulai dari Lampulo hingga Aceh Barat Daya.(06/05/2026).

 

Bacaan Lainnya

Namun di balik daftar itu, ada satu nama yang justru absen—Kuala Krueng Pasee, Aceh Utara. Sebuah muara yang bukan hanya jalur ekonomi nelayan, tetapi juga saksi bisu sejarah kelam konflik masa lalu.

 

Kekecewaan itu disuarakan oleh Ketua Forum Pemuda Samudera, Misbahhuddin, atau yang akrab disapa Marcos. Dengan nada getir, ia mempertanyakan mengapa Krueng Pasee seakan dilupakan.

 

“Dulu, saat konflik, kuala ini menjadi jalur penyelamat. Para kombatan yang terluka dilarikan melalui sini, menembus laut demi mendapatkan pengobatan. Krueng Pasee bukan sekadar muara, tapi bagian dari sejarah perjuangan,” ucapnya lirih.

 

Kini, kondisi muara itu justru memprihatinkan. Pendangkalan semakin parah, pasir menutup jalur, dan perahu-perahu nelayan kerap tersangkut. Aktivitas melaut yang seharusnya menjadi rutinitas, berubah menjadi perjuangan yang penuh ketidakpastian.

 

Nelayan tak lagi bebas berlayar. Mereka harus menunggu air pasang untuk berangkat, dan menahan diri di tengah laut hingga waktu yang sama untuk kembali. Tidak jarang, mereka terjebak berjam-jam, hanya karena jalur pulang tertutup oleh dangkalnya muara.

 

“Ini bukan sekadar soal ekonomi, ini soal hidup dan mati. Kalau tidak melaut, kami tidak makan. Tapi kalau dipaksakan, perahu bisa rusak, bahkan bisa membahayakan nyawa,” ungkap seorang nelayan setempat.

 

Marcos menilai, mengabaikan Kuala Krueng Pasee sama saja dengan mengabaikan denyut nadi masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari laut. Ia berharap pemerintah tidak hanya melihat angka dan daftar, tetapi juga mendengar suara-suara kecil yang selama ini terpinggirkan.

 

Di tengah rencana besar penanganan 13 pelabuhan, Krueng Pasee berdiri sunyi—tertinggal, terlupakan, dan terus menunggu. Menunggu perhatian. Menunggu keadilan. Dan menunggu hari di mana nelayan tak lagi bergantung pada pasang surut untuk sekadar mencari nafkah.

 

Riki Iswandi

 

Pos terkait