Indonesia Investigasi
Oleh: Tgk Abdullah bin Rusli
Di tengah rindangnya pepohonan dan suasana tenang Desa Blang Balok, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, berdiri sebuah situs sejarah yang menyimpan jejak masa lalu Aceh yang begitu agung. Situs Meriam Turki bukan sekadar benda tua yang berkarat dimakan usia, melainkan saksi bisu bahwa Aceh pernah menjadi negeri yang kuat, disegani, dan memiliki hubungan dengan dunia Islam internasional.
Meriam yang tersimpan di lokasi tersebut mengingatkan kita pada masa ketika Kesultanan Aceh Darussalam berdiri sebagai salah satu kekuatan besar di kawasan Asia Tenggara. Hubungan Aceh dengan Turki Utsmani pada masa lalu bukanlah cerita dongeng, melainkan bagian dari sejarah yang menunjukkan bahwa Aceh pernah memiliki posisi penting dalam percaturan dunia Islam.
Ketika bangsa-bangsa lain masih berjuang membangun peradaban, Aceh telah menjadi pusat perdagangan, pendidikan Islam, diplomasi, dan kekuatan maritim. Kapal-kapal dari berbagai negeri datang ke pelabuhan-pelabuhan Aceh. Ulama dan cendekiawan berkumpul di bumi Serambi Makkah untuk menyebarkan ilmu dan membangun peradaban.
Namun, ketika kita memandang situs Meriam Turki hari ini, ada perasaan haru yang sulit disembunyikan. Di balik sejarah kebesaran itu, Aceh saat ini masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Dalam banyak sektor, Aceh tertinggal dibandingkan daerah-daerah lain yang dahulu justru belajar dari kejayaan peradaban Islam yang pernah tumbuh di tanah ini.
Pertanyaannya, apakah kita hanya ingin menjadi penonton sejarah? Ataukah kita ingin menjadikan sejarah sebagai pelajaran untuk bangkit kembali?
Islam mengajarkan bahwa kemuliaan tidak datang hanya dengan mengenang masa lalu, tetapi dengan mengambil hikmah dan bekerja keras untuk masa depan. Allah SWT berfirman bahwa keadaan suatu kaum tidak akan berubah sampai mereka sendiri berusaha mengubah keadaan mereka.
Oleh sebab itu, situs Meriam Turki di Blang Balok seharusnya tidak hanya menjadi tempat berfoto atau sekadar objek wisata sejarah. Situs ini harus menjadi pengingat bagi generasi muda Aceh bahwa nenek moyang mereka pernah membangun peradaban besar melalui ilmu, persatuan, keberanian, dan keimanan.
Aceh tidak kekurangan sejarah. Aceh tidak kekurangan ulama. Aceh tidak kekurangan sumber daya alam. Yang dibutuhkan adalah semangat untuk menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para pendahulu.
Jika dahulu Aceh mampu menjalin hubungan dengan kekuatan besar dunia Islam dan menjadi pusat perdagangan internasional, maka tidak ada alasan bagi generasi hari ini untuk menyerah pada keadaan. Kebangkitan Aceh tidak akan lahir dari nostalgia semata, tetapi dari kesadaran bahwa sejarah besar adalah amanah yang harus dilanjutkan.
Mari kita jaga situs-situs sejarah seperti Meriam Turki di Desa Blang Balok sebagai warisan peradaban. Sebab bangsa yang melupakan sejarahnya akan kehilangan arah, sementara bangsa yang menghormati sejarahnya akan menemukan jalan menuju masa depan yang lebih bermartabat.
Meriam Turki di Blang Balok bukan hanya peninggalan masa lalu. Ia adalah pesan dari leluhur Aceh kepada generasi hari ini: jangan pernah lupa bahwa Aceh pernah hebat, dan dengan izin Allah, Aceh dapat kembali bangkit.
Peureulak, 7 Juni 2026
