OLEH : Tgk Abdullah
Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, hadis riwayat Thabrani mengingatkan kita pada ukuran kemuliaan yang sesungguhnya: “Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling berguna bagi sesamanya.” Ukuran cinta Allah bukan pada banyaknya harta, jabatan, atau popularitas, melainkan pada seberapa besar manfaat yang kita hadirkan bagi orang lain.
Islam adalah agama yang membumi. Ia tidak hanya mengajarkan hubungan vertikal dengan Allah melalui shalat dan puasa, tetapi juga menegaskan pentingnya hubungan horizontal dengan sesama manusia. Bahkan dalam hadis tersebut ditegaskan, amalan yang paling dicintai Allah adalah membuat seorang muslim gembira, menghilangkan kesedihannya, melunasi hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Empat hal ini menggambarkan kepedulian sosial sebagai inti keberagamaan.
Membuat orang lain gembira tidak selalu membutuhkan biaya besar. Senyum tulus, perhatian yang hangat, atau kata-kata penguat di saat seseorang terpuruk bisa menjadi amal yang bernilai besar di sisi Allah. Menghilangkan kesedihan berarti hadir sebagai penenang di tengah badai kehidupan orang lain. Betapa banyak saudara kita yang memendam beban, dan betapa sedikit yang benar-benar mau mendengar.
Melunasi hutang orang yang kesulitan adalah bentuk nyata solidaritas ekonomi. Hutang sering kali menjadi beban psikologis yang berat. Membantu melunasinya bukan hanya menyelesaikan masalah finansial, tetapi juga mengangkat martabat dan ketenangan jiwa seseorang. Begitu pula memberi makan kepada yang lapar, itu bukan sekadar memberi nasi, melainkan menjaga keberlangsungan hidup dan harapan.
Dalam konteks masyarakat hari ini, hadis ini seharusnya menjadi landasan gerakan sosial umat. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat kepedulian. Komunitas muslim tidak hanya ramai dalam perayaan, tetapi juga tanggap dalam kesulitan. Kepedulian sosial adalah bukti nyata bahwa iman itu hidup.
Jika kita ingin dicintai Allah, maka jadilah pribadi yang membawa manfaat. Tidak harus menunggu kaya untuk berbagi, tidak harus menunggu sempurna untuk peduli. Mulailah dari lingkaran terdekat: keluarga, tetangga, dan lingkungan sekitar. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan hidup bukan pada apa yang kita kumpulkan, tetapi pada apa yang kita berikan.
Semoga kita termasuk hamba yang dicintai Allah karena kehadiran kita menjadi rahmat bagi sesama.*
