Oleh : Tgk. Abdullah bin Rusli
Di tengah rimbunnya pepohonan dan di tepian Sungai Peureulak, Desa Teumpeun, Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, berdiri sebuah makam tua yang mungkin tampak sederhana. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan kisah besar tentang perjalanan hidayah, peradaban, dan hubungan sejarah antara tanah Jawa dan Aceh. Makam itu dikenal masyarakat sebagai Makam Prabu Tapa, atau yang sering disebut Teungku Digeudham (Teungku Dhibunge’h).
Menurut riwayat yang hidup di tengah masyarakat, sekitar tahun 1106 M, seorang putra mahkota dari Kerajaan Majapahit bernama Prabu Tapa datang ke Peureulak untuk menemui saudaranya, Banta Ahmad. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Putri Nurul A’la. Pertemuan tersebut menjadi titik awal perubahan besar dalam hidupnya.
Pada saat itu Prabu Tapa masih memeluk agama Hindu. Namun setelah mengenal Islam dan menyaksikan akhlak mulia masyarakat Peureulak, ia menerima hidayah Allah SWT. Bukan hanya memeluk Islam, ia juga menetap di Peureulak dan memperdalam ilmu agama di Dayah Aziziyah, Buket Cibrek, hingga akhir hayatnya.
Kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu. Ia mengajarkan bahwa Islam berkembang di Nusantara melalui dakwah yang penuh hikmah, keteladanan, ilmu pengetahuan, dan akhlak yang baik. Tidak dengan paksaan, tetapi dengan kelembutan yang mampu menyentuh hati manusia.
Allah SWT berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125).
Sayangnya, banyak situs sejarah Islam yang mulai terlupakan. Generasi muda lebih mengenal tokoh-tokoh dari luar negeri dibandingkan tokoh dan sejarah yang ada di daerahnya sendiri. Padahal bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan menghormati para pendahulunya.
Makam Prabu Tapa adalah bukti bahwa Aceh, khususnya Peureulak, memiliki peran penting dalam perjalanan Islam di Nusantara. Situs ini bukan hanya milik masyarakat Teumpeun, tetapi merupakan warisan sejarah umat Islam yang harus dijaga bersama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Ahmad).
Mensyukuri perjuangan para pendahulu dapat diwujudkan dengan menjaga peninggalan sejarah mereka, mempelajari kisahnya, dan menyampaikan kepada generasi berikutnya. Sebab sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dijadikan pelajaran.
Makam tua yang kini berdiri tenang di tepi Sungai Peureulak itu seolah mengingatkan kita bahwa kemuliaan tidak terletak pada gelar, kekuasaan, ataupun keturunan. Seorang putra mahkota rela meninggalkan kebesaran dunia demi mencari kebenaran dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Semoga kisah Prabu Tapa menjadi pengingat bagi kita semua bahwa hidayah adalah anugerah terbesar dalam kehidupan. Dan semoga generasi muda Aceh tidak hanya mewarisi tanah dan bangunan dari leluhurnya, tetapi juga mewarisi semangat menuntut ilmu, menjaga sejarah, mencintai agama, serta menghormati perjuangan para pendahulu yang telah menegakkan syiar Islam di bumi Peureulak.
Karena bangsa yang melupakan sejarahnya akan kehilangan arah masa depannya, sedangkan bangsa yang menjaga sejarahnya akan menemukan jati dirinya.(*)
