Oleh: Tgk Abdullah bin Rusli
Di tengah kehidupan sosial yang semakin kompleks, kita dihadapkan pada satu kenyataan yang cukup memprihatinkan: semakin sulit menemukan sosok penengah dalam setiap persoalan. Perbedaan yang dahulu bisa diselesaikan dengan musyawarah, kini justru berujung pada perpecahan. Setiap kelompok berdiri dengan keyakinannya sendiri, saling mempertahankan pendapat, bahkan tak jarang saling menjatuhkan.
Padahal, Rasulullah ﷺ telah memberikan pedoman yang sangat jelas: “Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini seharusnya menjadi cermin bagi kita semua, bahwa tidak semua persoalan perlu diperbesar, tidak semua perbedaan harus dipertajam.
Namun yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Banyak di antara kita lebih sibuk mengurus kesalahan orang lain daripada memperbaiki diri sendiri. Energi umat terkuras untuk hal-hal yang tidak membawa manfaat, sementara nilai persatuan dan keadilan perlahan mulai terkikis.
Lebih menyedihkan lagi, peran para orang tua—yang dahulu menjadi tempat kembali dalam setiap persoalan—kini mulai memudar. Entah karena mereka tak lagi diberi ruang, atau karena generasi muda yang mulai enggan mendengar. Padahal, dalam kebijaksanaan mereka tersimpan solusi, dalam pengalaman mereka ada keseimbangan.
Kita juga tidak bisa menutup mata bahwa kecenderungan berkelompok telah memperkeruh keadaan. Kebenaran seolah hanya milik kelompok tertentu, dan keadilan menjadi bias oleh kepentingan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka jangan heran jika konflik akan terus berulang tanpa penyelesaian yang hakiki.
Sudah saatnya kita kembali merenung. Menjadi penengah bukanlah tugas yang ringan, tetapi ia adalah amanah yang mulia. Dibutuhkan hati yang bersih, niat yang lurus, serta keberanian untuk berdiri di atas kebenaran tanpa terikat oleh kepentingan.
Ummat ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sangat membutuhkan orang yang bijak. Bukan yang memperbesar masalah, tetapi yang mampu meredam. Bukan yang memihak, tetapi yang adil. Bukan yang keras dalam ucapan, tetapi lembut dalam penyelesaian.
Mari kita mulai dari diri sendiri. Menahan diri dari hal yang tidak bermanfaat, menjaga lisan, serta mengedepankan persatuan. Karena sejatinya, kekuatan umat terletak pada kebersamaan, dan kebersamaan hanya akan terwujud jika ada keadilan yang dijaga bersama.
Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari perpecahan. Aamiin.







