Kebaikan yang Sesungguhnya : Peduli kepada Sesama Hamba Allah

 

Oleh: Tgk Abdullah bin Rusli

Di tengah kehidupan masyarakat, sering kali ukuran kebaikan seseorang hanya dilihat dari seberapa rajin ia ke masjid, menghadiri pengajian, atau banyaknya ibadah yang tampak di hadapan manusia. Padahal, ibadah yang baik seharusnya melahirkan akhlak yang baik dan kepedulian terhadap sesama.

 

Bacaan Lainnya

Rajin ke masjid adalah kemuliaan. Aktif mengikuti pengajian juga merupakan amalan yang sangat terpuji. Namun, ukuran kebaikan seseorang tidak berhenti pada ritual semata. Kebaikan yang hakiki terlihat dari bagaimana ia memperlakukan manusia lain, bagaimana ia peduli terhadap tetangga, membantu orang yang kesusahan, menyantuni fakir miskin, serta menjaga lisan dan perbuatannya dari menyakiti orang lain.

 

Allah SWT berfirman:

 

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, para malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, dan orang yang meminta-minta.”

 

(QS. Al-Baqarah: 177)

 

Ayat ini menjelaskan bahwa kebajikan bukan hanya simbol dan penampilan lahiriah, melainkan juga kepedulian sosial yang nyata kepada sesama manusia.

 

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

 

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

 

(HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan lainnya)

 

Hadis ini memberikan pelajaran bahwa kemuliaan seorang hamba di sisi Allah tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah pribadi, tetapi juga dari manfaat yang ia berikan kepada orang lain.

 

Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda:

 

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

 

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Kepedulian terhadap sesama merupakan bukti kesempurnaan iman. Orang yang baik bukanlah orang yang hanya sibuk memperbaiki dirinya sendiri, tetapi juga berusaha meringankan beban orang lain. Ia hadir ketika tetangganya membutuhkan bantuan, ikut merasakan kesedihan saudaranya, dan tidak menutup mata terhadap penderitaan kaum dhuafa.

 

Betapa banyak orang yang rajin beribadah, tetapi lisannya menyakiti sesama. Betapa banyak orang yang tampak saleh di hadapan manusia, tetapi tidak peduli terhadap penderitaan orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya, ada orang yang sederhana dalam penampilannya, namun hatinya penuh kasih sayang, ringan tangan membantu, dan menjadi penolong bagi banyak orang. Inilah akhlak yang dicintai Allah SWT.

 

Ibadah yang benar akan melahirkan kasih sayang. Shalat yang benar akan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Puasa yang benar akan menumbuhkan empati terhadap orang yang lapar. Zakat dan sedekah akan menghidupkan kepedulian sosial. Jika ibadah belum melahirkan kepedulian kepada sesama, maka setiap Muslim perlu melakukan muhasabah terhadap dirinya.

 

Mari kita jadikan masjid sebagai tempat memperbaiki hubungan dengan Allah, dan masyarakat sebagai tempat membuktikan kebaikan akhlak kepada sesama manusia. Sebab, tanda orang baik bukan hanya terlihat dari rajin ke masjid dan pengajian, tetapi juga dari sejauh mana ia peduli terhadap hamba-hamba Allah SWT.

 

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga memiliki hati yang lembut, penuh kasih sayang, dan senantiasa bermanfaat bagi sesama.

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Pos terkait