“Jika Iman Runtuh, Negeri Pun Roboh”
Oleh Tgk Abdullah bin Rusli
Di tengah kehidupan ummat hari ini, kita menyaksikan begitu banyak kegelisahan. Keamanan mulai goyah, keadilan terasa mahal, kemiskinan meningkat, dan perpecahan muncul di mana-mana. Padahal Allah SWT telah memberikan pedoman yang sangat jelas dalam Al-Qur’an tentang bagaimana sebuah negeri bisa berdiri kokoh, aman, dan diberkahi.
Islam mengajarkan bahwa tegaknya sebuah negeri bukan semata-mata karena kekuatan senjata, kemegahan bangunan, ataupun kekayaan alam. Tetapi sebuah negeri akan kuat apabila dibangun di atas fondasi iman, taqwa, keadilan, ilmu, dan kepedulian sosial.
Dalam QS. Ibrahim ayat 35, Nabi Ibrahim AS berdoa:
“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala.”
Doa ini menunjukkan bahwa keamanan bukan hanya urusan aparat atau kekuasaan, tetapi sangat berkaitan dengan keimanan kepada Allah SWT. Ketika manusia menjauh dari tauhid, maka hati menjadi rusak, moral runtuh, dan akhirnya lahirlah kezaliman serta kekacauan.
Hari ini banyak manusia lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan iman. Lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga amanah. Padahal negeri yang aman lahir dari hati-hati yang takut kepada Allah.
Allah SWT juga menegaskan dalam QS. Al-A’raf ayat 96:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.”
Ayat ini adalah janji Allah. Bahwa keberkahan hidup tidak hanya diukur dari banyaknya uang atau megahnya pembangunan, tetapi dari hadirnya ketenangan, keadilan, kesehatan, persaudaraan, dan keberlimpahan rezeki yang halal.
Namun ketika manusia mulai mendustakan ayat-ayat Allah, menghalalkan kezaliman, korupsi, fitnah, dan kerakusan, maka keberkahan itu perlahan dicabut. Negeri mungkin tampak maju secara fisik, tetapi sesungguhnya rapuh secara moral.
Dalam QS. An-Nahl ayat 112, Allah memberi perumpamaan tentang sebuah negeri yang dahulu aman dan makmur, namun hancur karena mengingkari nikmat Allah. Ini menjadi peringatan besar bagi ummat hari ini agar tidak sombong dengan kekuasaan dan kemewahan.
Para ulama juga mengingatkan bahwa dunia ini tegak karena empat perkara: ilmu para ulama, keadilan pemimpin, kedermawanan orang kaya, dan doa orang fakir.
Ulama menjaga cahaya ilmu agar manusia tidak tersesat. Pemimpin yang adil menjadi pelindung rakyat kecil. Orang kaya yang dermawan membantu menjaga keseimbangan sosial. Sedangkan doa orang-orang miskin menjadi kekuatan langit yang sering diremehkan manusia.
Sayangnya, di zaman sekarang banyak orang berilmu justru dibungkam, keadilan diperjualbelikan, kekayaan hanya berputar di kalangan tertentu, dan jeritan rakyat kecil sering tidak didengar.
Padahal Rasulullah SAW mengingatkan bahwa pemimpin yang adil memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Sebaliknya, kezaliman adalah jalan menuju kehancuran negeri.
Jika hukum hanya tajam kepada rakyat kecil tetapi tumpul kepada penguasa dan orang kaya, maka itu pertanda rusaknya pondasi sebuah bangsa. Jika amanah diperdagangkan demi kepentingan pribadi, maka kehancuran tinggal menunggu waktu.
Karena itu, ummat Islam hari ini harus kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Para pemimpin harus takut kepada Allah sebelum takut kehilangan jabatan. Orang kaya harus sadar bahwa hartanya ada hak kaum miskin. Ulama harus terus menyuarakan kebenaran walaupun pahit. Dan rakyat harus menjaga persatuan serta memperbanyak doa untuk keselamatan negeri.
Sesungguhnya sebuah negeri tidak akan hancur karena kemiskinan semata, tetapi akan hancur ketika iman hilang, keadilan mati, dan manusia tidak lagi peduli terhadap sesama.
Semoga Allah SWT menjaga negeri-negeri kaum Muslimin, menghadirkan pemimpin yang adil, ulama yang istiqamah, masyarakat yang peduli, serta melimpahkan keberkahan bagi seluruh ummat. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Wassalam







