Fadhilah Puasa & Tarawih Ramadhan ke-8

 

Oleh:  Tgk Abdullah

 

RAMADHAN adalah madrasah ruhani yang setiap tahunnya kembali menyapa umat Islam dengan panggilan taubat, sabar, dan perbaikan diri. Memasuki hari kedelapan, semangat ibadah seharusnya tidak mengendur, justru semakin menguat. Sebab pada fase inilah kesungguhan mulai diuji: apakah kita berpuasa sekadar menahan lapar dan dahaga, atau benar-benar menahan hati dari kesombongan, lisan dari dusta, dan jiwa dari maksiat?

Bacaan Lainnya

 

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa berpuasa Ramadhan dan menegakkan (shalat malam) karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hadis ini bukan sekadar janji, tetapi motivasi besar bagi siapa saja yang ingin kembali bersih di hadapan Allah. Puasa melatih keikhlasan, sedangkan tarawih menguatkan ketundukan. Keduanya adalah dua sayap yang mengangkat derajat seorang hamba.

 

Pada hari kedelapan Ramadhan, para ulama sering mengingatkan bahwa puasa bukan hanya kewajiban fisik, melainkan pembuka pintu surga. Pintu itu tidak hanya bermakna simbolik, tetapi menggambarkan terbukanya peluang ampunan dan rahmat seluas-luasnya. Ketika seseorang berpuasa dengan penuh iman, ia sedang mengetuk pintu rahmat tersebut dengan kesabaran dan keyakinan.

 

Sementara itu, tarawih di malam hari menjadi bukti cinta seorang hamba kepada Rabb-nya. Dalam keheningan malam, saat sebagian manusia terlelap, orang-orang yang berdiri dalam shalat sedang mencatatkan dirinya sebagai hamba yang taat. Ketaatan bukan dinilai dari panjangnya rakaat semata, melainkan dari hadirnya hati dan khusyuknya jiwa.

 

Ramadhan hari kedelapan juga menjadi momentum evaluasi. Sudahkah puasa kita membentuk akhlak yang lebih lembut? Sudahkah tarawih kita menghadirkan ketenangan dalam keluarga dan masyarakat? Jika belum, maka inilah saatnya memperbaiki niat dan meningkatkan kualitas ibadah.

 

Media sering memberitakan hiruk-pikuk dunia; namun Ramadhan mengajarkan kita untuk menenangkan batin. Dunia boleh gaduh, tetapi hati orang beriman tetap teduh karena yakin bahwa setiap amal, sekecil apa pun, dicatat oleh Allah.

 

Semoga pada hari kedelapan ini, kita termasuk hamba-hamba yang dibukakan pintu surga dan dicatat sebagai insan yang taat. Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi perjalanan menuju derajat takwa yang lebih tinggi.

 

Wallahu a’lam.

Pos terkait