Oleh: Tgk Abdullah
Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Musnad Ahmad bersabda:
“Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari harta yang haram. Neraka lebih pantas untuknya.”
Hadis ini bukan sekadar peringatan, melainkan tamparan keras bagi siapa saja yang meremehkan perkara halal dan haram dalam mencari nafkah. Ia menyentuh inti kehidupan manusia: makanan, harta, dan tanggung jawab moral di hadapan Allah.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, godaan untuk meraih keuntungan dengan cara instan semakin besar. Korupsi dianggap lumrah, manipulasi data dipandang cerdas, suap dianggap tradisi, dan riba dianggap solusi. Padahal, setiap rupiah yang masuk ke tubuh kita akan menjadi darah dan daging. Jika sumbernya haram, maka dampaknya bukan hanya pada kehidupan dunia, tetapi juga akhirat.
Islam menempatkan rezeki halal sebagai fondasi ibadah. Bagaimana mungkin doa diangkat ke langit jika makanan yang mengalir dalam tubuh berasal dari jalan yang tidak diridhai Allah? Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa seseorang yang makan dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dan hidupnya dari yang haram, maka doanya sulit dikabulkan. Ini menunjukkan bahwa keberkahan bukan terletak pada jumlah, tetapi pada kehalalan.
Bagi masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi syariat Islam, pesan ini seharusnya menjadi cermin bersama. Keistimewaan daerah bukan hanya pada qanun yang tertulis, tetapi pada integritas moral warganya. Jangan sampai identitas religius hanya tampak di simbol, sementara praktik kehidupan masih jauh dari nilai kejujuran dan amanah.
Mencari nafkah halal memang tidak selalu mudah. Ia menuntut kesabaran, kerja keras, dan terkadang pengorbanan. Namun justru di situlah letak kemuliaannya. Setiap tetes keringat yang halal bernilai ibadah. Setiap rupiah yang bersih menjadi cahaya bagi keluarga. Anak-anak yang tumbuh dari rezeki halal insya Allah akan lebih dekat kepada keberkahan hidup.
Sebaliknya, harta haram mungkin memberi kenyamanan sesaat, tetapi menyimpan api yang membakar pelan-pelan. Ia merusak hati, menumpulkan nurani, dan pada akhirnya menjerumuskan pemiliknya ke jurang penyesalan.
Hadis ini mengajak kita untuk melakukan muhasabah. Sudahkah kita memastikan setiap sumber penghasilan bersih dari unsur haram? Sudahkah kita menjaga amanah jabatan dan kepercayaan masyarakat? Sudahkah kita menolak yang syubhat demi menjaga kehormatan diri?
Surga bukan hanya diraih dengan banyaknya ibadah ritual, tetapi juga dengan kesucian rezeki. Karena itu, mari kita luruskan niat, bersihkan usaha, dan tegakkan kejujuran dalam setiap transaksi.
Sebab pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukanlah banyaknya harta, melainkan keberkahannya. Dan keberkahan hanya lahir dari yang halal.
