Indonesia Investigasi
BANDA ACEH – Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kabar duka menyelimuti komunitas sejarah dan kebudayaan Aceh. Piet Rusdi, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Aceh, berpulang ke Rahmatullah pada Rabu, 28 Oktober 2026.
Kabar wafatnya sosok yang selama ini dikenal sebagai salah satu pegiat pelestarian kebudayaan Aceh itu menyebar melalui sejumlah grup WhatsApp pada Rabu pagi.
“Telah berpulang ke Rahmatullah Bapak Piet Rusdi, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh, hari ini. Semoga Allah menerima amal ibadahnya. Aamiin YRA,” demikian pesan duka yang beredar.
Kepergian Piet Rusdi menjadi kehilangan besar bagi dunia sejarah dan kebudayaan Aceh. Di bawah kepemimpinannya, berbagai upaya pelestarian tradisi, situs sejarah, hingga benda-benda kepurbakalaan terus dilakukan.
Ia dikenal aktif dalam penyelamatan tradisi-tradisi Aceh yang mulai terancam punah. Dunia ekskavasi dan penelitian benda-benda kepurbakalaan juga menjadi bagian dari perhatian selama masa pengabdiannya.
Sejumlah komunitas kebudayaan kembali bergerak dan hidup, sementara berbagai situs cagar budaya di Aceh turut mendapat perhatian dan pemugaran.
Bagi banyak pegiat sejarah dan kebudayaan, Piet Rusdi bukan sekadar pejabat yang memimpin lembaga pelestarian kebudayaan. Ia dikenal sebagai sosok yang dekat dengan komunitas dan memiliki perhatian besar terhadap warisan budaya Aceh.
Dedikasinya terhadap kebudayaan bahkan membuatnya kerap disebut sebagai salah satu “bapak kebudayaan” di Aceh. Waktu dan pikirannya banyak dicurahkan untuk memastikan warisan sejarah dan budaya Aceh tetap dikenal dan dirawat oleh generasi berikutnya.
Tidak hanya bekerja di lapangan, Piet Rusdi juga dikenal sebagai penulis sejumlah buku kebudayaan. Salah satu karya tulisnya berjudul Pacu Kude: Permainan Tradisional di Dataran Tinggi Gayo.
Almarhum lahir pada 4 Maret 1980. Ia merupakan putra dari sejarawan legendaris Aceh, almarhum Rusdi Sufi.
Kabar duka itu semakin menyayat ketika sejumlah sahabat dan rekan kerja masih sempat menyampaikan doa untuk kesembuhannya sebelum kabar kepergiannya diterima.
Miftah Nasution, salah seorang staf Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh, membenarkan kabar wafatnya Piet Rusdi.
Menurut informasi yang diterimanya, Piet Rusdi sempat dibawa ke IGD Rumah Sakit Harapan Bunda pada Rabu dini hari.
“Info tadi subuh masuk IGD RS Harapan Bunda. Mohon didoakan untuk Pak Piet,” ujar Miftah dalam pesan WhatsApp.
Namun, takdir berkata lain. Doa yang semula dipanjatkan untuk kesembuhan berubah menjadi doa agar Allah mengampuni segala dosa, menerima seluruh amal ibadah, dan menempatkan almarhum di tempat terbaik di sisi-Nya.
Jasad Piet Rusdi rencananya akan dikebumikan di rumah orang tuanya di Jalan Masjid II, Pagar Air, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar.
Kini, salah seorang penjaga ingatan dan warisan kebudayaan Aceh itu telah pergi.
Namun, jejak pengabdiannya akan tetap tinggal—di situs-situs sejarah yang pernah ia perjuangkan, pada tradisi yang berusaha ia selamatkan, dalam karya-karya yang ia tuliskan, dan di tengah komunitas kebudayaan yang pernah berjalan bersamanya.
Selamat jalan, Piet Rusdi.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa, menerima amal ibadah, melapangkan kubur, serta menempatkan almarhum di tempat terbaik di sisi-Nya.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.








