Berdinding Bambu dan Spanduk Bekas, Rumah Khalidah di Aceh Utara Akan Dibangun

 

Indonesia Investigasi 

ACEH UTARA — Di balik kesederhanaan sebuah gubuk beratap daun rumbia di Gampong Keutapang, Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara, Khalidah (57) menjalani hari-harinya bersama putranya, Maulidin (28).

Rumah yang mereka tempati jauh dari kata layak. Bangunannya hanya berukuran sekitar 2×3 meter, berdinding tepas dari bambu dan spanduk bekas, serta berlantai tanah. Ruang yang sempit itu bahkan harus dibagi menjadi dua kamar untuk tempat tinggal ibu dan anak tersebut.

Bacaan Lainnya

Kondisi kehidupan Khalidah mendapat perhatian dari Baitul Mal Aceh Utara. Pada Sabtu (3/10/2026), Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh Utara, Samsul Bahri, S.E., datang langsung melihat kondisi rumah Khalidah. Ia turut didampingi Geuchik Gampong Keutapang, Surya Achsal.

Kunjungan tersebut bukan sekadar untuk melihat kondisi keluarga Khalidah. Baitul Mal Aceh Utara juga memastikan rencana pembangunan rumah layak huni bagi Khalidah melalui program rumah layak huni.

Samsul menyampaikan, Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil atau yang akrab disapa Ayahwa, telah memberikan perhatian terhadap kondisi tempat tinggal Khalidah dan menjanjikan pembangunan rumah layak huni bagi keluarga tersebut melalui program Baitul Mal.

“Bapak H. Ismail A. Jalil atau Ayahwa menyampaikan bahwa kondisi rumah Khalidah sangat memprihatinkan. Beliau menjanjikan akan membangun rumah layak huni untuk Khalidah melalui program Baitul Mal,” kata Samsul.

Menurutnya, kondisi rumah yang ditempati Khalidah menjadi salah satu gambaran masyarakat yang membutuhkan perhatian dan dukungan untuk mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak.

Selain meninjau rumah, rombongan Baitul Mal Aceh Utara juga membawa bantuan sembako untuk Khalidah dan Maulidin. Bantuan tersebut diharapkan dapat sedikit meringankan beban kebutuhan sehari-hari keluarga tersebut.

Samsul menjelaskan, pembangunan rumah layak huni menjadi salah satu program yang diprioritaskan Baitul Mal Aceh Utara. Sasaran utamanya adalah masyarakat yang menempati rumah dengan kondisi sangat memprihatinkan atau ekstrem.

“Baitul Mal Aceh Utara memprioritaskan pembangunan rumah layak huni bagi masyarakat yang kondisi rumahnya sangat ekstrem, seperti yang kita kunjungi saat ini,” ujarnya.

Bagi Khalidah dan Maulidin, rencana pembangunan rumah tersebut bukan sekadar perubahan bangunan. Jika terealisasi, rumah baru itu akan menjadi tempat berlindung yang lebih aman dan layak setelah selama ini mereka menjalani kehidupan di sebuah gubuk kecil yang jauh dari standar hunian yang semestinya.

Pos terkait