Akselerasi Koridor Laut Aceh–Penang: Langkah Progresif Pembuka Akses Pasar Maritim Internasional

 

Indonesia Investigasi 

ACEH UTARA – Pemerintah Aceh secara bertahap mematangkan langkah strategis reaktivasi dan pembukaan rute pelayaran internasional jalur laut yang menghubungkan Pelabuhan Umum Krueng Geukueh, Aceh Utara, menuju Penang, Malaysia. Langkah ini mempertegas komitmen daerah dalam memperkuat konektivitas maritim antarnegara di kawasan Selat Malaka.

Kepastian persiapan ini mengemuka dalam Rapat Akselerasi dan Tinjauan Lapangan yang dihadiri lintas instansi teknis, meliputi Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh, KSOP Kelas IV Lhokseumawe, Imigrasi Lhokseumawe, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Regional 1 Branch Lhokseumawe, serta BUMD PT Pembangunan Aceh (PEMA). Agenda strategis ini dipimpin langsung oleh Atase Perhubungan Kementerian Perhubungan RI untuk Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, Sindu Rahayu.

Bacaan Lainnya

 

Dalam rapat koordinasi tersebut, seluruh pemangku kepentingan menggarisbawahi pentingnya percepatan sinergi lintas sektoral antara Pemerintah Republik Indonesia dan Malaysia, baik dari kesiapan teknis kepelabuhanan, kesiapan armada, operasional manpower, hingga kepastian regulasi antarlembaga. Atase Perhubungan RI di Kuala Lumpur, Sindu Rahayu, menegaskan bahwa pihak KBRI menyambut positif inisiatif pembukaan konektivitas maritim ini. Namun, ia menggarisbawahi pentingnya kesiapan dokumen dan prosedur teknis di lapangan.

 

“Pada prinsipnya, Atase Perhubungan Indonesia di Kuala Lumpur menyambut baik seluruh inisiasi pembukaan rute pelayaran internasional Indonesia–Malaysia ini. Namun, hal-hal krusial terkait keimigrasian, kepabeanan, kaji laksana perdagangan, dan aspek teknis lainnya harus mampu kita formulasikan secara jelas dan implementatif agar dapat disampaikan secara konkret kepada pihak Malaysia,” ujar Sindu Rahayu.

 

Umum Krueng Geukueh. Peninjauan mencakup akses jalan darat, fasilitas dermaga umum, dermaga Roll-on/Roll-off (Ro-Ro), terminal penumpang, hingga sarana penunjang prioritas yang wajib dipenuhi pada tahap awal operasional. Dari sisi kesiapan infrastruktur dan operasional, General Manager PT Pelindo Regional 1 Branch Lhokseumawe, Aulia Rahman, menyatakan optimistis terhadap daya tampung dan kapabilitas pelabuhan dalam mendukung skema transportasi internasional ini.

 

“Secara kapasitas, Pelindo sangat siap mengoptimalkan langkah strategis ini. Dari sisi operasional—baik ketersediaan armada, personel, maupun fasilitas pendukung—insya Allah kami siap. Pelindo akan bekerja keras secara kolektif untuk terus mendukung pemerintah dalam menciptakan iklim transportasi dan maritim yang modern dan inklusif,” ungkap Aulia Rahman.

 

Pengembangan rute Krueng Geukueh–Penang ini merupakan salah satu program prioritas Gubernur Aceh dalam meretas potensi ekonomi maritim kawasan Selat Malaka. Langkah progresif ini diproyeksikan menjadi motor penggerak baru bagi pertumbuhan ekonomi, sektor pariwisata, logistik, dan perdagangan regional yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Bireuen, Bener Meriah, Aceh Tengah (Takengon), serta kabupaten/kota sekitar.

Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, mengapresiasi kehadiran langsung Atase Perhubungan KBRI Kuala Lumpur dalam mengawal kesiapan rute ini di lapangan.

 

“Pemerintah Aceh memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas kehadiran langsung Atase Perhubungan untuk memastikan persiapan konektivitas laut antarnegara ini berjalan matang. Kami berharap dukungan penuh dari KBRI di Kuala Lumpur dapat semakin memperkuat hubungan bilateral Indonesia–Malaysia, sekaligus memperlancar arus transportasi dan perdagangan bagi Aceh,” papar Teuku Faisal.

 

Sementara itu, BUMD PT Pembangunan Aceh (PEMA) diposisikan sebagai salah satu motor penggerak utama dalam komersialisasi dan keberlanjutan konektivitas ini. Direktur Umum dan Keuangan PT PEMA, Tgk. H. Muhammad Nur, menyampaikan bahwa pembukaan rute pelayaran internasional ini menjadi peluang emas penciptaan ekosistem bisnis baru di Aceh.

 

“Sesuai arahan Gubernur Aceh, PT PEMA diinstruksikan untuk bekerja maksimal dan membangun kolaborasi solid, baik dengan pemangku kepentingan lokal maupun mitra internasional. Ini adalah upaya nyata membuka lini bisnis baru dan menumbuhkan perekonomian daerah. PEMA berkomitmen penuh memperjuangkan capaian strategis ini demi kemajuan seluruh masyarakat Aceh,” tegas Muhammad Nur.

 

Dengan koordinasi intensif antar-instansi serta peninjauan teknis yang telah dilakukan, Pemerintah Aceh dan seluruh pemangku kepentingan optimistis jalur penyeberangan Krueng Geukueh–Penang dapat segera terealisasi sebagai urat nadi baru konektivitas maritim Indonesia–Malaysia.

 

Pewarta : bung jal.

Pos terkait