Oleh: Tgk Abdullah
Hari Raya Idul Fitri 1447 H / 2026 M bukan sekadar momentum kemenangan setelah sebulan berpuasa. Ia adalah panggilan jiwa untuk kembali—bukan hanya kepada Allah, tetapi juga kepada dua sosok yang menjadi sebab keberadaan kita di dunia: ayah dan ibu.
Di Masjid Bandar Khalifah, Desa Bandrong, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, khutbah yang disampaikan oleh Tgk Faisal menggugah hati para jamaah. Suaranya bergetar, seakan membawa setiap hadirin menelusuri kembali jejak panjang pengorbanan orang tua.
Ia mengisahkan, betapa seorang ayah rela memeras keringat di bawah terik matahari, menahan lelah demi sepotong nasi untuk anak-anaknya. Sementara seorang ibu, dengan cinta tanpa batas, begadang di malam hari, merawat, menjaga, dan mendoakan tanpa henti. Bahkan dalam kondisi kekurangan, mereka tetap tersenyum, menyembunyikan luka agar anak-anaknya tetap bahagia.
Namun, ironi kehidupan seringkali terjadi. Ketika anak-anak tumbuh dewasa, meraih pendidikan tinggi, memiliki pekerjaan mapan, bahkan mencapai kesuksesan, justru di situlah perlahan mereka mulai menjauh. Telepon yang dulu sering berdering kini sunyi. Kunjungan yang dulu rutin kini menjadi jarang. Dan perhatian yang dulu hangat, kini tergantikan oleh kesibukan dunia.
Kita sering lupa, bahwa kesuksesan yang kita banggakan hari ini adalah hasil dari air mata yang tak pernah mereka tunjukkan. Setiap langkah kita adalah doa yang mereka panjatkan dalam diam. Setiap keberhasilan kita adalah harapan yang mereka titipkan kepada langit.
Jangan sampai kita kehilangan arah tujuan hidup. Jangan sampai dunia membuat kita lalai, hingga lupa siapa yang pertama kali mengajarkan kita berjalan. Jangan sampai kita baru menyadari arti berbakti ketika ayah dan ibu telah tiada—dan penyesalan hanya tinggal sebagai luka yang tak pernah sembuh.
Idul Fitri adalah waktu terbaik untuk kembali. Kembali memeluk mereka, mencium tangan mereka, meminta maaf atas segala khilaf, dan berjanji untuk menjadi anak yang lebih berbakti. Karena sejatinya, ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua.
Jika hari ini ayah dan ibu masih ada, maka berbahagialah. Itu adalah kesempatan yang tidak ternilai. Namun jika mereka telah tiada, maka kirimkanlah doa yang tak putus, karena itulah bakti yang masih bisa kita berikan.
Semoga kita tidak menjadi anak yang hanya pandai mengejar dunia, tetapi lupa menghargai surga yang pernah Allah titipkan di rumah kita sendiri: ayah dan ibu.
