Indonesia Investigasi
LANGKAHAN, ACEH UTARA – Lumpur mungkin telah mengering, namun duka belum sepenuhnya reda. Di antara rumah-rumah yang roboh dan perabotan yang terseret arus, tersimpan kisah tentang kehilangan, tentang malam-malam panjang tanpa cahaya, dan tentang anak-anak yang bertanya kapan mereka bisa kembali tidur dengan tenang.
Di tengah suasana itu, pada sabtu, 21 Februari 2026, Center for Information of Sumatra Pasai Heritage (CISAH) menyerahkan Certificate of Appreciation kepada Haji Rafhuddin Bin Rohani dan rekan-rekannya yang tergabung dalam Tim relawan kemanusiaan Halaqah Mukhlisin Malaysia. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Sekjend CISAH Mawardi, Is. menjadi ungkapan terima kasih yang tak mampu sepenuhnya menggambarkan rasa haru masyarakat Aceh Utara dan Aceh Tamiang atas kehadiran saudara-saudara mereka dari negeri jiran.
Sertifikat itu bukan sekadar lembaran kertas berbingkai. Ia adalah simbol dari peluh yang jatuh di tanah basah, dari langkah-langkah yang menembus jalan berlumpur, dan dari doa-doa yang dipanjatkan di sela-sela aktivitas kemanusiaan.
Dalam Program Khidmat Luar Negara, mereka datang bukan membawa nama besar, tetapi membawa hati yang penuh rahmah.
Sejak 16 hingga 22 Februari 2026, tim relawan menyusuri wilayah terdampak di Langkahan dan sekitarnya. Mereka membagikan bantuan, membersihkan sisa-sisa bencana, memeluk para ibu yang kehilangan harta benda, dan menyeka air mata anak-anak yang ketakutan setiap kali hujan turun kembali.
Bagi para penyintas, kehadiran relawan bukan hanya tentang beras, air, tilam, iqrak, atau obat-obatan. Ia adalah tentang harapan yang kembali menyala. Tentang keyakinan bahwa di saat paling gelap sekalipun, masih ada tangan-tangan yang terulur tanpa pamrih.
Dalam teks penghargaan itu tertulis doa yang begitu menyentuh: semoga setiap kebaikan dibalas dengan keberkahan yang melimpah dan diterima sebagai amal jariyah. Doa itu seakan menjadi penguat bahwa kerja kemanusiaan bukanlah panggung, melainkan ibadah yang sunyi namun agung.
Penandatanganan penghargaan oleh jajaran pengurus CISAH menjadi saksi bahwa solidaritas tak mengenal sekat negara. Malaysia dan Aceh dipertemukan bukan oleh batas geografis, melainkan oleh rasa persaudaraan seiman dan sesama manusia.
Di tanah yang pernah menjadi pusat peradaban Islam Samudra Pasai, nilai khidmah kembali hidup. Air bah boleh saja menghancurkan bangunan, namun ia tak mampu meruntuhkan kepedulian.
Dan di balik setiap tetes air mata duka, kini terselip air mata syukur—karena di saat ujian datang, Allah menghadirkan saudara-saudara yang menguatkan.(*)
Abel Pasai









