Aceh Seuramoe Makkah: Jangan Biarkan Jejak Para Khalifah Hilang Ditelan Zaman

 

Oleh : Tgk Abdullah bin Rusli

 

ACEH bukan sekadar nama sebuah daerah di ujung barat Nusantara. Aceh adalah tanah mulia yang pernah menjadi cahaya Islam di Asia Tenggara, tanah yang dahulu dijuluki Seuramoe Makkah—Serambi Makkah—karena kuatnya syariat, ilmunya para ulama, dan jejak sejarah Islam yang begitu agung.

Bacaan Lainnya

 

Namun hari ini, kita patut bertanya dengan hati yang jujur: masihkah kita mengenal sejarah kita sendiri?

 

Foto makam yang kita lihat ini bukan sekadar batu bertulis nama. Di sana tertulis sebuah pengingat besar tentang sejarah yang nyaris dilupakan: Makam Sultan Alaiddin Said Maulana Abdul Aziz Syah, bersama istrinya Putri Meurah Mahdum Khudawi, yang disebut sebagai pendiri kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara, yakni Bandar Khalifah Peureulak.

 

Di tanah Peureulak inilah dahulu Islam berkembang, menjadi pusat perdagangan, ilmu, dan dakwah. Kapal-kapal dari jazirah Arab, Persia, dan berbagai negeri datang membawa ilmu, peradaban, serta cahaya tauhid. Bahkan diyakini, di Aceh pernah bermukim keturunan mulia yang bersambung nasab kepada Rasulullah SAW, menjadi bagian dari penyebaran Islam di bumi Nusantara.

 

Namun sangat disayangkan, hari ini banyak anak-anak kita bahkan orang dewasa yang tidak lagi mengenal kisah itu. Mereka mengenal sejarah bangsa lain, tetapi lupa pada akar sejarah tanahnya sendiri. Mereka hafal nama tokoh luar, tetapi tidak tahu siapa yang pernah menanamkan syariat pertama di bumi Aceh.

 

Padahal, hampir di seluruh pelosok Aceh terdapat makam para ulama, para sultan, dan para khalifah dari jazirah Arab yang menjadi saksi bahwa tanah ini pernah menjadi pusat peradaban Islam yang disegani dunia.

 

Jika sejarah ini terus diabaikan, maka kita bukan hanya kehilangan pengetahuan, tetapi juga kehilangan arah. Kita akan kehilangan adab, kehilangan sopan santun, kehilangan rasa hormat kepada leluhur, bahkan kehilangan cahaya ilmu yang dahulu menjadi kebanggaan Aceh.

 

Aceh disebut Seuramoe Makkah bukan tanpa alasan. Julukan itu lahir karena Aceh pernah menjaga agama dengan sungguh-sungguh, menjunjung tinggi ilmu, dan memuliakan sejarah para pendahulunya. Namun jika generasi hari ini tidak lagi peduli, maka perlahan julukan itu hanya akan menjadi cerita tanpa makna.

 

Sudah saatnya kita kembali menziarahi sejarah. Mengajak anak-anak melihat makam para pendahulu, membaca kisah kerajaan Islam Peureulak, mengenalkan siapa para ulama dan khalifah yang pernah hidup di tanah ini.

 

Karena bangsa yang melupakan sejarahnya, sejatinya sedang berjalan menuju kehilangan jati dirinya.

 

Mari kita jaga Aceh, bukan hanya tanahnya, tetapi juga ruh sejarahnya. Agar cahaya Islam dari Serambi Makkah tetap bersinar, bukan hanya untuk Aceh, tetapi menjadi pengingat bagi ummat Islam di seluruh Asia Tenggara.

 

Jangan biarkan makam-makam para pendahulu hanya menjadi batu sunyi tanpa penghormatan. Sebab di sanalah tersimpan jejak kemuliaan yang seharusnya kita warisi.

 

Pos terkait