Oleh: Tgk Abdullah bin Rusli
ACEH hari ini terlihat sedang tidak baik-baik saja. Negeri yang dahulu dikenal dengan julukan Aceh sebagai Seuramoe Makkah kini seperti kehilangan arah, kehilangan keteduhan, bahkan perlahan mulai kehilangan rasa saling menghormati antara sesama anak bangsa.
Kami para generasi muda merasa sedih melihat keadaan yang terjadi saat ini. Yang tua menyerang yang muda, dan yang muda pun membalas yang tua. Ruang-ruang persaudaraan mulai dipenuhi perpecahan, fitnah, amarah, serta saling menjatuhkan. Padahal Aceh dibangun dengan nilai agama, adab, dan rasa hormat kepada ulama serta orang tua.
Dulu Aceh dikenal dunia sebagai negeri yang bermartabat. Negeri para ulama, para syuhada, negeri yang melahirkan peradaban Islam besar di Asia Tenggara. Nama Seuramoe Makkah bukan sekadar gelar, melainkan simbol kemuliaan akhlak dan kekuatan syariat. Kemudian lahirlah nama Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh.
Namun hari ini, kami mulai bertanya dalam hati:
Apakah suatu saat nama-nama besar itu akan hilang dengan sendirinya karena ulah kita sendiri?
Aceh memiliki segalanya yang tidak dimiliki daerah lain. Kita memiliki sejarah, syariat, adat, ulama, sumber daya alam, dan semangat perjuangan yang luar biasa. Tetapi semua itu tidak akan berarti apabila masyarakatnya terus terpecah dan para tokohnya memilih diam melihat keadaan.
Kami sangat berharap kepada para tokoh tua, para ulama, umara, cendekiawan, dan seluruh pihak yang masih memiliki kepedulian terhadap Aceh agar segera turun tangan meredam suasana. Jangan biarkan generasi muda tumbuh dalam kebencian dan permusuhan. Jangan biarkan Aceh kehilangan kehormatan dan marwahnya di mata dunia.
Kami rindu Aceh yang damai.
Kami rindu Aceh yang penuh nasehat dan kasih sayang.
Kami rindu melihat yang tua merangkul yang muda, bukan saling menjatuhkan.
Jika hari ini semua memilih diam, maka kami takut suatu saat anak cucu kita hanya mendengar cerita bahwa Aceh pernah besar, pernah mulia, dan pernah disegani dunia — namun semuanya hilang karena masyarakatnya gagal menjaga persatuan dan adab.
Aceh tidak boleh rusak oleh tangan anak negerinya sendiri.
Semoga Allah SWT menjaga Aceh, menjaga persaudaraan rakyatnya, serta menghadirkan kembali pemimpin dan tokoh-tokoh yang mampu menenangkan keadaan, demi masa depan generasi yang akan datang.
Wassalam.
