Indonesia Investigasi
ACEH UTARA — Warga Keude Geudong mengeluhkan tumpukan sampah pasar dan sampah pertokoan yang disebut baru diangkut setiap dua hingga tiga hari sekali oleh pihak kebersihan. Kondisi tersebut membuat kawasan pasar dipenuhi bau menyengat dan dinilai sangat mengganggu aktivitas masyarakat serta para pedagang.
Menurut warga, keterlambatan pengangkutan sampah menyebabkan sampah menumpuk di berbagai titik, terutama di sekitar pasar dan pertokoan. Akibatnya, aroma tidak sedap terus menyebar dan membuat masyarakat merasa resah.
“Kadang sampah baru diangkut dua atau tiga hari sekali yg lebih parah bisa 4 hari. Bau sampah sangat menyengat, apalagi saat cuaca panas. Kami berharap sampah diambil setiap hari supaya lingkungan tetap bersih dan nyaman,” ujar salah seorang warga Keude Geudong.
Masyarakat menilai kondisi tersebut semakin memperburuk suasana Keude Geudong yang belakangan disebut mulai sepi aktivitas perdagangan. Warga bahkan menyebut kawasan itu kini seperti “kota hantu” akibat toko-toko yang terbengkalai hampir 5 tahun belum di lanjutkan pembuatan Oleh Pt. Bina Udaha Milik Setempat Setelah Melakukan Penggusuran Terhadap Padagan Kaki Lima.
Warga meminta Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Aceh Utara segera mengambil langkah serius dengan menjadwalkan pengangkutan sampah secara rutin setiap hari, terutama di kawasan pasar yang menghasilkan volume sampah cukup besar.
“Kami selalu membayar iuran kebersihan tepat waktu. Jadi kami berharap pelayanan pengangkutan sampah juga maksimal dan tidak menunggu sampai berhari-hari baru diangkut,” tambah warga lainnya.
Masyarakat berharap pemerintah daerah melalui DLHK Aceh Utara dapat segera merespons keluhan tersebut agar kebersihan lingkungan Keude Geudong kembali terjaga dan masyarakat dapat beraktivitas dengan nyaman tanpa terganggu bau sampah yang menyengat.
Riki Iswandi
