Oleh: Muhammad Ramadhanur Halim, S.H.I.
DI TENGAH zaman ketika gelar “ustadz” bisa dibeli dengan popularitas dan ceramah berubah jadi konten viral, sosok seperti Abi Sulis hadir sebagai anomali. Ia bukan selebritas agama. Ia bukan pula pengumpul panggung. Ia adalah guru dalam makna paling purba dan paling mulia: yang mendidik dengan diam, membentuk dengan teladan, dan menulis bukan hanya buku, tapi manusia.
Saya mengenalnya bukan dari layar, tapi dari lantai-lantai dingin asrama Madrasah Ulumul Qur’an Dayah Bustanul Ulum Langsa, antara tahun 1999 hingga 2005. Di sana, Abi Sulis adalah suara yang membangunkan kami selepas Shubuh—bukan dengan bentakan, tapi dengan kelembutan yang justru membuat kami malu untuk tidak bangun. Suara itu masih terngiang hingga kini. Dan mungkin akan terus tinggal, bahkan setelah tubuhnya telah kembali ke tanah.
Abi Sulis bukan hanya guru, ia adalah arsitek peradaban. Ia menulis tiga buku yang tak sekadar mengisi rak perpustakaan, tapi mengisi ruang berpikir kami:
– Dinamika Sistem Pendidikan Islam pada Madrasah Ulumul Qur’an Yayasan Dayah Bustanul Ulum di Kota Langsa—sebuah otokritik dan refleksi mendalam atas sistem pendidikan Islam yang ia jalani dan bangun sendiri. Buku ini bukan sekadar laporan akademik, tapi juga testimoni hidup tentang bagaimana pendidikan Qur’ani bisa menjadi benteng moral di tengah arus zaman.
– Kepemimpinan Perspektif Al-Qur’an dan Hadis—bukan teori kosong, tapi cermin dari kepemimpinan yang ia praktikkan setiap hari: tenang, tegas, dan penuh kasih. Ia tidak pernah menyuruh kami menjadi pemimpin, tapi ia menunjukkan bagaimana menjadi pemimpin yang takut kepada Allah dan cinta kepada umat.
– Pendidikan Jujur, Sabar, dan Istiqamah serta 7 Dosa Besar Dihindari Dapat Meningkatkan Derajat Kemuliaan Para Petani—sebuah karya yang melampaui ruang kelas, menyentuh akar rumput, dan membela martabat kaum kecil. Di tengah masyarakat yang sering lupa pada petani, Abi Sulis menulis tentang mereka dengan hormat dan harapan.
Beliau adalah dosen di IAIN Langsa, guru senior di MUQ Langsa, dan pembina umat yang tak pernah lelah menanam nilai. Tapi lebih dari itu, beliau adalah penjaga akhlak. Di tengah dunia pendidikan yang makin terobsesi pada ranking dan sertifikasi, Abi Sulis memilih jalan sunyi: mendidik dengan cinta, bukan dengan angka.
Ia tidak pernah memaksa kami menjadi ulama, tapi memastikan kami tidak tumbuh menjadi penipu bersorban. Ia tidak mengajarkan kami cara tampil di mimbar, tapi cara berdiri tegak di hadapan kebenaran. Ia tidak sibuk membangun citra, karena ia terlalu sibuk membangun jiwa.
Dan yang paling menggetarkan: beliau tidak hanya menulis buku, tapi menulis manusia. Kami—murid-muridnya—adalah halaman-halaman hidup yang ia isi dengan nilai, dengan hikmah, dengan keteladanan. Kami adalah manuskrip hidup dari perjuangan sunyi seorang guru yang tak pernah menuntut tepuk tangan.
Kini, ketika beliau telah berpulang, kami baru sadar: betapa langkanya guru yang benar-benar guru. Yang tidak hanya mengajar, tapi juga menghidupkan. Yang tidak hanya menyampaikan, tapi juga menanamkan. Yang tidak hanya hadir di kelas, tapi juga menetap dalam hati murid-muridnya.
Abi Sulis telah pergi. Tapi warisannya tinggal. Dalam buku-bukunya. Dalam nilai-nilai yang kami bawa. Dalam suara Shubuh yang tak pernah benar-benar hilang. Dalam setiap langkah kami yang mencoba, meski tertatih, meneladani jejaknya.
Selamat jalan, Abi. Engkau telah menulis kami dengan tinta keikhlasan. Semoga Allah menuliskan namamu di antara para pendidik yang dirindukan langit.
M12H







