URGENSI FESTIVAL ORMAS INSPIRATIF 2026 BAGI PENGUATAN ORMAS DI SEMARANG 

 

Oleh : Dr.H. AM. Jumai.,SE., MM.*

 

Festival Ormas Inspiratif Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Semarang bukan sekadar agenda seremonial. Festival ini harus dimaknai sebagai momentum strategis untuk melakukan kick off kinerja organisasi kemasyarakatan sekaligus meneguhkan komitmen bersama: Ormas Maju, Semarang Maju.

Bacaan Lainnya

 

Ormas bukan hanya kumpulan orang dengan kepentingan yang sama, melainkan energi sosial yang dapat menggerakkan kepedulian, memperkuat persatuan, dan menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat.

 

Kota Semarang memiliki dinamika organisasi kemasyarakatan yang sangat beragam. Di dalamnya terdapat ormas keagamaan, kepemudaan, profesi, sosial, budaya, lingkungan, perempuan, pendidikan, hingga kelompok pemberdayaan ekonomi. Keragaman tersebut merupakan modal sosial yang besar, tetapi juga memerlukan tata kelola yang sehat. Karena itu, Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 3 Tahun 2023 tentang Pemberdayaan Organisasi Kemasyarakatan menjadi fondasi penting agar hubungan pemerintah dan ormas tidak berhenti pada pola administratif, melainkan berkembang menjadi kemitraan pembangunan yang produktif, transparan, dan berkelanjutan.

 

Berbagai program pemberdayaan seperti Ormas Expo, penguatan kemandirian ormas, Kemah Pembauran Ormas, pelatihan kepemimpinan, dialog kebangsaan, hingga Ormas Award harus ditempatkan sebagai instrumen peningkatan kapasitas. Pemerintah Kota Semarang melalui Badan Kesbangpol dapat memberikan perhatian melalui hibah, fasilitasi, pendampingan, dan mekanisme swakelola yang akuntabel. Namun, dukungan pemerintah harus diimbangi dengan tanggung jawab organisasi untuk menyusun program yang nyata, memiliki manfaat publik, serta dapat dipertanggungjawabkan secara moral maupun administratif.

 

Pertanyaan pentingnya adalah: bagaimana kinerja ormas di Kota Semarang diukur? Kinerja tidak cukup dinilai dari banyaknya kegiatan, ramainya peserta, atau besarnya spanduk acara. Standar kinerja ormas harus mencakup legalitas dan tata kelola organisasi, kualitas kepemimpinan, transparansi keuangan, konsistensi program, kebermanfaatan bagi masyarakat, kemampuan membangun kolaborasi, serta kontribusi terhadap ketertiban dan harmoni sosial. Ormas yang baik bukan yang paling keras bersuara, melainkan yang paling nyata memberi dampak.

 

Indikator kinerja ormas dapat dirumuskan secara sederhana tetapi tegas: memiliki administrasi dan legalitas yang tertib; menjalankan musyawarah organisasi secara demokratis; mempunyai program kerja tahunan; melibatkan anggota dalam kegiatan produktif; memberikan layanan sosial; membangun kemandirian ekonomi; menjaga toleransi; serta tidak bertentangan dengan hukum, Pancasila, dan nilai kebangsaan. Selain itu, ormas perlu memiliki kemampuan melakukan evaluasi internal dan menyampaikan laporan kegiatan secara terbuka kepada anggota, pemerintah, serta masyarakat.

 

Di tengah masyarakat, kiprah ormas sering dipandang secara beragam. Ada ormas yang dihormati karena hadir saat bencana, mendampingi warga miskin, menggerakkan pendidikan, membantu UMKM, menjaga kerukunan, dan memperjuangkan kepentingan publik. Namun, masih ada pula kesan negatif bahwa ormas identik dengan premanisme, arogansi, pragmatisme, intimidasi, atau sekadar mencari jatah proyek. Kesan seperti ini harus dilawan dengan pembuktian melalui kerja nyata. Misi dan visi ormas tidak boleh direduksi menjadi alat kepentingan sesaat.

 

Ormas juga perlu masuk ke ruang akademik. Pemberdayaan dan pendampingan ormas dapat menjadi bahan kajian ilmiah, jurnal penelitian, bahkan disertasi di Universitas Diponegoro. Akademisi dapat membantu menyusun indikator, memetakan dampak sosial, mengukur efektivitas program, dan memberi rekomendasi kebijakan. Sebaliknya, pengalaman lapangan ormas dapat memperkaya ilmu pengetahuan agar tidak hanya berhenti di ruang kelas.

 

Festival Ormas Inspiratif 2026 harus menjadi panggung apresiasi sekaligus ruang refleksi. Ormas harus tampil sebagai mitra kritis pemerintah, bukan lawan; sebagai penggerak masyarakat, bukan beban; sebagai penjaga persatuan, bukan sumber konflik. Ketika ormas berintegritas, mandiri, inovatif, dan berpihak kepada rakyat, maka Semarang akan semakin kuat sebagai kota yang harmonis, inklusif, dan berkemajuan. Ormas maju bukan slogan kosong. Ia adalah kerja, keteladanan, dan pengabdian untuk Semarang maju.

 

*AM Jumai Dosen Fakultas Ekonomi Hukum dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Semarang.

 

Pewarta : Haris M.

Pos terkait