Penyusun :
Nama : Devi Rahmayani
Nim : 2025540005
Mata Kuliah : Filsafat Ilmu (Tugas Opini)
ISU UTAMA dalam pembahasan sejarah filsafat adalah kecenderungan memahaminya sebatas kronologi tokoh dan aliran pemikiran, tanpa menempatkannya sebagai proses intelektual yang membentuk cara berpikir ilmiah manusia. Sejarah filsafat sering diperlakukan sebagai narasi masa lalu yang statis, bukan sebagai dinamika pemikiran rasional yang melahirkan tradisi keilmuan modern. Padahal, pemahaman terhadap sejarah filsafat sangat menentukan kesadaran epistemologis tentang bagaimana ilmu pengetahuan lahir, berkembang, dan terus dikritisi.
Sejarah filsafat menggambarkan perjalanan panjang manusia dalam upaya mencari kebenaran dan memahami realitas secara rasional. Filsafat lahir ketika manusia mulai meninggalkan penjelasan mitologis (mythos) dan beralih kepada rasio (logos) sebagai sarana utama memahami alam, manusia, dan kehidupan. Peralihan dari mitos menuju rasionalitas ini menandai titik awal lahirnya cara berpikir ilmiah, yang pertama kali berkembang secara sistematis pada masa Yunani Kuno. Sejak saat itu, filsafat menjadi pondasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan hingga era modern dan kontemporer.
Penulis berpendapat bahwa sejarah filsafat harus dipahami sebagai proses pembentukan rasionalitas ilmiah, bukan sekadar sejarah ide. Setiap fase perkembangan filsafat—mulai dari filsafat alam Yunani, filsafat klasik, abad pertengahan, hingga modern—menunjukkan upaya manusia untuk merumuskan dasar pengetahuan yang rasional, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, sejarah filsafat memiliki peran strategis dalam memahami filsafat ilmu, karena di dalamnya tercermin pergulatan manusia dalam menentukan hakikat realitas, sumber pengetahuan, serta hubungan antara akal, pengalaman, dan nilai-nilai transenden.
Pada masa Yunani Kuno, filsafat berkembang sebagai usaha rasional untuk menjelaskan asal-usul alam semesta dan hakikat realitas. Para filsuf pra-Sokratik seperti Thales, Anaximandros, dan Anaximenes berupaya menemukan asas pertama (arche) alam semesta. Thales memandang air sebagai prinsip dasar segala sesuatu, Anaximandros memperkenalkan konsep apeiron sebagai realitas tak terbatas, sementara Anaximenes menempatkan udara sebagai unsur fundamental kehidupan. Herakleitos kemudian menegaskan bahwa realitas bersifat dinamis dan senantiasa berubah.
Sebaliknya, filsuf Eleatik seperti Parmenides, Zeno, dan Melissos menolak pandangan perubahan dengan menegaskan bahwa realitas sejati bersifat satu, tetap, dan tidak berubah. Perdebatan antara kaum filsuf alam dan Eleatik memperlihatkan kedalaman refleksi ontologis dalam filsafat awal.
Pada periode klasik, pemikiran filsafat mencapai puncaknya melalui Socrates, Plato, dan Aristoteles. Socrates mengalihkan fokus filsafat pada persoalan etika dan manusia melalui metode dialog kritis. Plato mengemukakan teori dunia ide sebagai realitas sejati, sementara Aristoteles mengembangkan pendekatan empiris dan sistematis yang mencakup logika, metafisika, etika, dan ilmu alam. Pemikiran mereka menjadi fondasi utama bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan Barat.
Memasuki Abad Pertengahan, filsafat tidak mengalami kemunduran sebagaimana sering diasumsikan, melainkan mengalami transformasi melalui integrasi dengan tradisi keagamaan. Dalam Islam, gerakan penerjemahan dan pengembangan ilmu melahirkan tradisi filsafat yang kaya dan produktif. Para filsuf muslim seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd memainkan peran penting dalam mengembangkan logika, metafisika, kedokteran, astronomi, dan etika.
Filsafat Islam menunjukkan bahwa rasio dan wahyu tidak bersifat dikotomis, melainkan dapat saling melengkapi. Berbagai aliran berkembang, seperti filsafat peripatetik yang menekankan rasionalitas Aristotelian, neo-Platonisme dengan konsep emanasi, ilmu kalam sebagai teologi rasional, serta tasawuf falsafi yang memadukan rasio dan spiritualitas.
Sementara itu, dalam tradisi Kristen, tokoh-tokoh seperti Agustinus, Anselmus, dan Thomas Aquinas berusaha mendamaikan iman dan akal. Filsafat berfungsi sebagai sarana rasional untuk memahami dan mempertahankan ajaran teologis, sekaligus menjaga otonomi rasio dalam batas-batas tertentu.
Periode modern menandai perubahan besar dalam cara manusia memahami pengetahuan. Runtuhnya dominasi gereja dan berkembangnya sains melahirkan rasionalisme dan empirisme sebagai dua aliran utama epistemologi. Tokoh seperti René Descartes menekankan rasio sebagai sumber kepastian pengetahuan, sementara Francis Bacon menegaskan pentingnya pengalaman dan metode induktif.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa filsafat tidak hanya melahirkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk pola pikir kritis, sistematis, dan metodologis yang menjadi ciri utama sains modern. Dengan demikian, sejarah filsafat memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak tumbuh secara tiba-tiba, melainkan melalui proses refleksi filosofis yang panjang dan berkesinambungan.
Sejarah filsafat memiliki peran fundamental dalam membentuk tradisi berpikir rasional dan ilmiah manusia. Dari masa Yunani Kuno hingga periode modern dan kontemporer, filsafat terus membimbing manusia dalam memahami dunia, dirinya, dan Tuhan secara kritis dan reflektif. Oleh karena itu, sejarah filsafat bukan hanya catatan masa lalu, tetapi merupakan pondasi utama bagi filsafat ilmu dan perkembangan ilmu pengetahuan, sekaligus penopang peradaban manusia yang berbasis rasionalitas dan nilai.(Red)







