Ramadhan Karim 2026 / 1447 H: Menyelami Kisah dari Sisi Lainnya

Muhammad Ramadhanur Halim, S.HI,

 

Oleh : Muhammad Ramadhanur Halim

 

RAMADHAN selalu hadir sebagai bulan penuh cahaya, namun di balik ritual yang sudah mapan tersebut terdapat kisah-kisah lain yang jarang dibedah. Kisah ini bukan hanya terfokus tentang puasa sebagai ibadah wajibnya saja, melainkan tentang bagaimana manusia menata ulang dirinya dalam lanskap sosial, budaya serta spiritualnya.

Bacaan Lainnya

Dari sisi sosial, Ramadhan menjadi ruang perjumpaan. Orang-orang yang biasanya sibuk dengan rutinitas kini berkumpul dalam suasana berbagi. Takjil di jalanan, buka puasa bersama di masjid, hingga zakat fitrah merupakan simbol keterhubungan yang melampaui sekat ekonomi. Namun, ada sisi lain yang sering luput: “Ramadhan juga memperlihatkan ketimpangan.” Di satu sudut kota, meja berbuka penuh hidangan mewah, sementara di sudut lain, ada keluarga yang hanya mampu berbuka dengan air putih dan nasi seadanya.

Dari sisi spiritual, Ramadhan adalah momentum pencarian. Malam-malam panjang diisi dengan doa dan tilawah, seakan manusia sedang berusaha menembus batas dirinya untuk menemukan makna yang lebih tinggi. Tetapi sisi lainnya adalah “kejujuran dalam refleksi.” Tidak semua orang mampu khusyuk, tidak semua berhasil menahan amarah. Ramadhan justru membuka ruang kejujuran bahwa “manusia itu rapuh, dan dari kerentanan itulah lahir kesadaran baru.”

Dari sisi budaya, Ramadhan di Indonesia kaya dengan tradisi lokal. Di Aceh, misalnya, ada “meugang” yaitu tradisi menyembelih hewan sebelum puasa. “Tradisi ini bukan sekadar makan daging,” melainkan simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap bulan suci. Namun, sisi lainnya adalah bagaimana tradisi bisa bergeser. “Meugang yang dahulu penuh makna kini kadang berubah menjadi ajang konsumsi berlebihan.” Di sinilah Ramadhan menguji: “apakah tradisi tetap menjadi jembatan nilai, atau sekadar ritual kosong.”

Dari sisi ekonomi, Ramadhan adalah berkah bagi para pedagang. Pasar malam, bazar takjil, hingga penjualan busana muslim melonjak. Tetapi sisi lainnya adalah ”konsumerisme yang berlebihan,” di mana semangat hemat dan sederhana justru terkikis.

Ramadhan juga menghadirkan sisi politik. Banyak pemimpin menggunakan momentum ini untuk tampil dekat dengan rakyat, berbagi sembako, atau mengadakan buka bersama. Namun sisi lainnya adalah pertanyaan: “apakah itu tulus, atau sekadar pencitraan.”

Dari sisi pendidikan, Ramadhan menjadi ruang belajar. Anak-anak diajarkan disiplin, kesabaran dan tanggung jawab. Tetapi sisi lainnya adalah tantangan: “bagaimana memastikan nilai-nilai itu tidak hilang setelah Ramadhan usai.”

Ramadhan juga menghadirkan sisi ekologis. Dengan meningkatnya konsumsi, sampah plastik dari bungkus takjil melonjak. Sisi lainnya adalah peluang: “Ramadhan bisa menjadi momentum untuk mengajarkan kesadaran lingkungan.”

Dari sisi psikologis, Ramadhan memberi ketenangan. Puasa menata ritme tubuh dan pikiran. Tetapi sisi lainnya adalah ujian mental: “rasa lapar bisa memicu emosi dan di sinilah manusia belajar mengendalikan diri.”

Ramadhan adalah ruang solidaritas global. Umat Islam di seluruh dunia berpuasa bersama, menciptakan rasa persaudaraan lintas bangsa. Namun sisi lainnya adalah perbedaan “penetapan awal puasa yang kadang menimbulkan perdebatan.”

Dari sisi teknologi, Ramadhan kini hadir dalam bentuk digital. Kajian online, aplikasi jadwal imsak, hingga dakwah di media sosial. Tetapi sisi lainnya adalah “banjir informasi yang tidak selalu berkualitas, bahkan kadang menyesatkan.”

Ramadhan juga menghadirkan sisi seni. Lagu-lagu religi, film bertema Ramadhan, hingga puisi spiritual bermunculan. Namun sisi lainnya adalah “komersialisasi seni yang kadang mengaburkan makna asli Ramadhan.”

Dari sisi keluarga, Ramadhan mempererat ikatan. Sahur bersama, tarawih berjamaah dan buka puasa bersama menjadi momen hangat. Tetapi sisi lainnya adalah “keluarga yang terpisah karena pekerjaan atau konflik, sehingga Ramadhan terasa sepi.”

Ramadhan adalah ruang refleksi politik identitas. Ia mengingatkan bahwa “agama bukan sekadar simbol,” melainkan etika hidup. Namun sisi lainnya adalah “bagaimana agama kadang dipakai sebagai alat legitimasi kekuasaan.”

Dari sisi sejarah, Ramadhan selalu menjadi momentum perubahan. Banyak peristiwa besar terjadi di bulan ini, dari perang Badar hingga proklamasi kemerdekaan di beberapa negara. Tetapi sisi lainnya adalah “bagaimana sejarah itu ditafsirkan ulang sesuai kepentingan.”

Ramadhan adalah ruang untuk meneguhkan filosofi hidup: beretika, berilmu dan beraktualisasi berkarya. Namun sisi lainnya adalah tantangannya: “konsistensi terhadap nilai yang ada padanya apakah tetap hidup setelah bulan suci berlalu.”

Pada kesimpulannya, Ramadhan Karim 2026/1447 H bukan hanya tentang melakukan puasa sebagai ibadah utama. Ia merupakan cerminan kehidupan: memperlihatkan cahaya sekaligus bayangan, kekuatan sekaligus kerentanan. Dari sisi lainnya, “Ramadhan mengajarkan bahwa hidup adalah pengabdian, jariyah dan perjalanan menuju ketaqwaan menjadi manusia seutuhnya.”

Banda Aceh, 18 Februari 2026 M – 30 Sya’ban 1447 H

M12H

 

 

 

Pos terkait