Indonesia Investigasi
TRAGEDI yang terjadi di Pantai Ulingan, Berau, bukan sekadar kisah duka satu keluarga. Peristiwa ini adalah cermin nyata bahwa destinasi wisata alam, seindah apa pun tampilannya, selalu menyimpan potensi bahaya yang kerap diabaikan. Di balik debur ombak yang menenangkan, tersimpan kekuatan yang tidak bisa ditawar oleh kelengahan manusia.
Kejadian hilangnya seorang bocah yang terseret arus laut seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak—baik pengelola wisata, pemerintah daerah, maupun para pengunjung. Pertanyaannya, apakah standar keamanan di kawasan wisata seperti Pantai Ulingan sudah benar-benar memadai? Apakah terdapat rambu peringatan yang jelas tentang arus berbahaya? Dan yang tak kalah penting, apakah pengawasan terhadap aktivitas wisatawan, terutama anak-anak, sudah dilakukan secara maksimal?
Sering kali, wisata pantai dipandang sebagai aktivitas santai tanpa risiko besar. Padahal, fenomena seperti arus balik (rip current) dapat terjadi tanpa tanda yang kasat mata dan mampu menyeret siapa saja dalam hitungan detik. Kurangnya edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya ini menjadi salah satu faktor utama yang memperbesar risiko korban.
Di sisi lain, tragedi ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya kewaspadaan pribadi. Orang tua dan keluarga memiliki peran krusial dalam menjaga keselamatan anak-anak saat berada di area berisiko. Pengawasan yang lengah, meski hanya sesaat, dapat berujung pada penyesalan seumur hidup.
Lebih jauh lagi, pemerintah daerah dan instansi terkait perlu menjadikan insiden ini sebagai momentum evaluasi serius. Penempatan petugas penjaga pantai (lifeguard), penyediaan alat keselamatan, serta pemasangan papan informasi yang informatif dan mudah dipahami bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Wisata yang aman bukan hanya soal keindahan, tetapi juga tentang jaminan perlindungan bagi setiap pengunjung.
Akhirnya, tragedi di Pantai Ulingan adalah luka yang tidak hanya dirasakan oleh satu keluarga, tetapi juga oleh kita semua sebagai masyarakat. Jangan sampai peristiwa ini berlalu begitu saja tanpa perubahan nyata. Karena pada akhirnya, keselamatan di tempat wisata bukanlah tanggung jawab satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama.
Sudirman







