Miris, Setahun Kepemimpinan Mualem-Dek Fadh, Pemerintah Aceh Terbitkan 20 Izin Tambang Baru Di Aceh

 

Indonesia Investigasi 

BANDA ACEH – Di akhir tahun 2025 kemarin, 18 Kab/Kota di Aceh diterjang banjir bandang dengan total kebutuhan dana untuk pemulihan mencapai Rp 153 Triliun berdasarkan data dalam dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonkstruksi Pascabencana (R3P) yang disampaikan oleh Pemerintah Aceh ke Pemerintah Pusat.

 

Bacaan Lainnya

Beberapa bulan sebelum terjadi bencana, Aceh disibukkan dengan proses penertiban tambang ilegal, sementara di sisi lain berbagai jenis izin tambang terus diobral dan diterbitkan oleh Pemerintah Aceh. Diantaranya izin tambang emas, tembaga, batubara, bijih besi, kuarsit, dsb. Dua sisi yang sangat bertolak belakang sehingga disinyalir ada kepentingan besar dibalik kebijakan pemerintah Aceh tersebut

 

Berdasarkan analisis IDeAS (Institute for Development of Acehnese Society) dari data terbaru di Dinas ESDM Aceh, sepanjang tahun 2025 Pemerintah Aceh melalui DPMPTSP Aceh telah menerbitkan 20 Izin Usaha Pertambangan (IUP) baru di Aceh. Angka tersebut merupakan rekor tertinggi terbitnya izin tambang dalam kurun waktu satu tahun di Aceh.

 

Total luas konsesi lahan mencapai 44.585 Ha dari 20 izin tambang tersebut. 8 izin terbit pada bulan januari 2025 yaitu masa Pj Gubernur Safrizal serta 12 izin lainnya terbit bulan Oktober dan November lalu yaitu tahun pertama Gubernur Muzakir Manaf memimpin Aceh.

 

Menurut Munzami Hs selaku direktur IDeAS ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian penting. Pertama, kita sangat prihatin terhadap maraknya penerbitan izin tambang yang dilakukan oleh Pemerintah Aceh, mengingat Aceh baru saja ditimpa bencana besar pada 26 November 2025 lalu. Kerusakan ekologis akibat maraknya aktifitas tambang baik yang berizin maupun yang ilegal merupakan salah satu penyebab utama terjadinya banjir bandang Aceh.

 

Kedua, kita meminta Presiden Prabowo untuk melakukan intervensi kebijakan terhadap maraknya penerbitan izin tambang di Aceh. Terbitnya 20 izin tambang baru tersebut mungkin luput dari pantauan Pemerintah Pusat serta kontraproduktif dengan statement Bapak Presiden yang dengan tegas manyatakan bahwa sepanjang tahun 2025 tidak ada satupun izin tambang yang terbit di Indonesia pada saat rapat kabinet beberapa waktu lalu.

 

Ketiga, kita meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK RI), Satgas PKH beserta instansi terkait untuk melakukan investigasi penelusuran & penindakan terhadap proses penerbitan 20 IUP yang kami nilai tidak wajar tersebut.

 

Keempat, kita mengingatkan pihak legislatif Aceh terutama Pansus Minerba DPR Aceh agar tidak tidur melihat fenomena maraknya penerbitan izin tambang di Aceh.

 

Terakhir, kami mengajak seluruh elemen masyarakat Aceh agar ikut mengawal bersama-sama proses eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam Aceh. Jangan sampai masyarakat hanya mendapat bencana sementara para elit pemerintah berkonspirasi dengan para oligarki ataupun korporat luar Aceh baik nasional maupun asing mengeruk SDA Aceh secara bar-bar tanpa kendali.

 

Berikut rincian 20 IUP tersebut ;

*Bulan November 2025 = 6 IUP*

PT Mineral Mega Sentosa – IUP Emas 739 Ha di Aceh Selatan (19/11/2025 s.d 2030)

PT Sumber Berkah Energi – IUP Emas 1.568 Ha di Aceh Jaya (18/11/2025 s.d 2030)

PT Hikmah Beutong Raya – IUP Emas 595 Ha di Nagan Raya (17/11/2025 s.d 2030)

PT Qasas Sabang Berjaya – IUP Kuarsit 1.823 Ha di Aceh Jaya (19/11/2025 s.d 2029)

PT Qasas Sabang Berjaya – IUP Kuarsit 3.888 Ha di Aceh Jaya (19/11/2025 s.d 2030)

PT Berkat Mandiri Persada – IUP Kuarsit 904 Ha di Aceh Jaya (19/11/2025 s.d 2028)

*Bulan Oktober 2025 = 6 IUP*

PT Surya Bara Mentari – IUP Batubara 4.327 Ha di Aceh Barat (31/10/2025 s.d 2032)

PT Kinston Abadi Mineral – IUP Bijih Besi 4.251 Ha di Aceh Selatan (31/10/2025 s.d 2033)

PT Bumi Mulya Energi – IUP Emas 1.787 Ha di Aceh Jaya (31/10/2025 s.d 2033)

PT Aurum Indo Mineral – IUP Emas 1.538 Ha di Aceh Selatan (31/10/2025 s.d 2030)

PT Kinston Abadi Energi – IUP Bijih Besi 596 Ha di Aceh Selatan (31/10/2025 s.d 2029)

PT Tunas Mandiri Persada – IUP Emas 33 Ha di Aceh Selatan (31/10/2025 s.d 2030)

*Bulan Januari 2025 = 8 IUP*

PT Aceh Jaya Baru Utama – IUP Emas 2.362 Ha di Aceh Jaya (17/01/2025 s.d 2033)

PT Abdya Mineral Utama – IUP Emas 2.319 Ha di Abdya (17/01/2025 s.d 2033)

PT Sumber Energi S – IUP Batubara 4.876 Ha di Singkil (17/01/2025 s.d 2032)

PT Karya Budidaya Nusantara – IUP Batubara 4.792 Ha di Singkil (14/01/2025 s.d 2032)

PT Bravo Energi Sentosa – IUP Batubara 3.349 Ha di Singkil (14/01/2025 s.d 2032)

PT Onetama Kencana Energi – IUP Batubara 4.418 Ha di Singkil (14/01/2025 s.d 2032)

PT Adikara Reksa Mitra – IUP Bijih Besi 230 Ha di Aceh Besar (10/01/2025 s.d 2030)

PT Rain Tambang Bersaudara – IUP Tembaga 190 Ha di Aceh Besar (10/01/2025 s.d 2030)

 

Melihat data yang tersaji diatas, tanpa kita sadari, Bumi Aceh yang sangat kaya akan sumber daya alam, telah tergadai kepada para konglomerat penguasa tambang. Rakyat Aceh tidak pernah tahu dan tidak pernah menikmati hasil dari hasil Tanoh Endatu yang telah mereka diami selama ratusan tahun. Hanya segelintir orang dan para elit-elit serakah yang menikmati hasil terbesar dari lukanya bumi Aceh sedangkan Rakyat Aceh hanya menikmati air bah yang datang tiba-tiba di tengah keheningan malam. Rumah, harta benda, bahkan nyawa rakyat Aceh tak ada arti nya dihadapan penguasa dan para konglomerat penikmat izin tambang.

 

Sebagai catatan tambahan, memasuki tahun 2026, pada 13 Januari lalu juga baru saja terbit lagi IUP jenis Tembaga untuk PT Alam Cempaka Wangi dengan luas konsesi 1.820 Ha di Nagan Raya (Masa Izin 13/01/2026 – 2031). Dari data tersebut juga menunjukkan bahwa dalam masa satu tahun pemerintahan awal, Gubernur Aceh Muzakir Manaf sudah menerbitkan 13 izin tambang baru di Aceh. Ini rekor tertinggi sepanjang sejarah pemberian izin tambang di Aceh!

 

Sumber :*MHs*

 

Zahrul

Pos terkait