Oleh: Tgk Abdullah
Di tengah kehidupan yang penuh dengan kesalahan, kealpaan, dan dosa, sering kali manusia terjebak dalam perasaan takut yang berlebihan kepada murka Allah. Padahal, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sunan Ibnu Majah, Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa ketika Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan makhluk-Nya, Dia berjanji kepada Diri-Nya: “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan amarah-Ku.”
Kalimat ini bukan sekadar kabar gembira, tetapi fondasi akidah dan sumber harapan bagi setiap insan yang beriman.
Rahmat Allah adalah sifat yang mendahului segala ketetapan-Nya. Bahkan sebelum manusia berbuat salah, pintu ampunan sudah tersedia. Sebelum hamba menangis dalam taubat, kasih sayang Allah telah menanti. Ini menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang membangun mentalitas putus asa, melainkan agama yang menumbuhkan optimisme spiritual.
Sayangnya, tidak sedikit umat yang lebih mudah merasa putus asa daripada berharap. Ketika terjatuh dalam dosa, sebagian langsung merasa dirinya tidak pantas lagi mendekat kepada Allah. Padahal justru pada saat itulah rahmat Allah sedang terbuka lebar. Putus asa bukanlah cerminan ketakwaan, tetapi bisikan yang menjauhkan manusia dari kasih sayang Tuhannya.
Rahmat yang mengalahkan amarah bukan berarti Allah tidak memiliki keadilan. Allah Maha Adil, namun keadilan-Nya selalu dibingkai oleh kasih sayang. Seorang hamba yang bersalah, lalu menyesal dan kembali, lebih dicintai daripada hamba yang merasa dirinya suci tanpa cela. Taubat bukan hanya penghapus dosa, tetapi juga bukti bahwa rahmat Allah bekerja dalam jiwa manusia.
Dalam kehidupan sosial, pesan hadis ini seharusnya tercermin dalam sikap kita. Jika Allah saja mendahulukan rahmat-Nya, mengapa kita mudah mendahulukan amarah? Jika Allah membuka pintu maaf, mengapa kita menutup pintu toleransi? Masyarakat yang meneladani sifat rahmat akan menjadi masyarakat yang saling memaafkan, saling menasihati, dan saling menguatkan.
Terlebih di bulan-bulan penuh keberkahan, semangat rahmat ini harus semakin terasa. Kita diajak bukan hanya memperbanyak ibadah, tetapi juga memperluas kasih sayang kepada sesama. Rahmat bukan konsep abstrak, ia hadir dalam senyum, dalam sedekah, dalam kata-kata lembut, dan dalam kesabaran menghadapi perbedaan.
Akhirnya, hadis ini mengajarkan satu hal penting: jangan pernah meragukan kasih sayang Allah. Sebesar apa pun dosa, rahmat-Nya lebih besar. Selama napas masih berhembus, harapan itu tetap ada.
Semoga kita termasuk hamba yang tidak hanya berharap pada rahmat Allah, tetapi juga menjadi perantara rahmat itu bagi orang lain. Karena ketika rahmat mengalahkan amarah, di sanalah kehidupan menemukan kedamaian sejati.*







