Mendamaikan yang Berselisih: Investasi Sosial yang Menjaga Kesehatan Umat

 

Indonesia Investigasi 

Di Tengah dinamika sosial yang semakin kompleks, kita sering menyaksikan perselisihan—baik dalam keluarga, lingkungan kerja, organisasi, bahkan di ruang-ruang publik digital. Perbedaan pandangan yang seharusnya menjadi rahmat, kerap berubah menjadi pertikaian yang merusak hubungan dan menggerus kepercayaan.

 

Bacaan Lainnya

Dalam sebuah hadis riwayat Sunan Abu Dawud, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa mendamaikan orang yang berselisih lebih utama derajatnya daripada puasa, shalat, dan sedekah. Beliau juga mengingatkan bahwa rusaknya hubungan akibat perselisihan adalah “pencukur” yang dapat menghapus amal kebaikan.

 

Pesan ini tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan bahkan kesehatan yang signifikan.

 

Perselisihan dan Dampaknya bagi Kesehatan Sosial

 

Konflik yang dibiarkan berlarut-larut terbukti meningkatkan stres, kecemasan, dan tekanan emosional. Dalam konteks keluarga, perselisihan dapat memicu gangguan psikologis pada anak. Di lingkungan kerja, konflik yang tak terselesaikan menurunkan produktivitas dan memicu kelelahan mental (burnout).

 

Secara sosial, konflik memecah solidaritas dan melemahkan kohesi komunitas. Masyarakat yang terfragmentasi lebih rentan terhadap provokasi, hoaks, dan polarisasi.

 

Sebaliknya, upaya islah (rekonsiliasi) menciptakan ruang dialog, membangun empati, dan memperkuat kepercayaan sosial. Individu yang terlibat dalam proses perdamaian cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih stabil, karena beban emosi negatif berkurang.

 

Mendamaikan: Peran Moral dan Tanggung Jawab Publik

 

Menjadi penengah bukan perkara mudah. Ia menuntut kebesaran hati, objektivitas, serta kemampuan komunikasi yang baik. Namun, peran ini sangat strategis—terutama di era media sosial, ketika perdebatan dapat menyebar luas dalam hitungan detik.

 

Tokoh masyarakat, pemuka agama, tenaga pendidik, bahkan tenaga kesehatan memiliki posisi penting dalam membangun budaya damai. Dalam konteks pelayanan publik, pendekatan yang humanis dan komunikatif terbukti efektif meredakan konflik serta meningkatkan kepuasan masyarakat.

 

Membangun Budaya Damai Sejak Dini

 

Budaya mendamaikan perlu ditanamkan sejak dini melalui pendidikan karakter di sekolah dan keluarga. Anak-anak perlu diajarkan bahwa meminta maaf bukan kelemahan, dan memaafkan adalah kekuatan.

 

Di ruang publik, literasi digital juga harus diperkuat agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memecah belah.

 

Penutup

 

Hadis tentang keutamaan mendamaikan yang berselisih bukan sekadar nasihat spiritual, melainkan panduan membangun peradaban yang sehat—secara moral, sosial, dan psikologis.

 

Jika puasa melatih kesabaran, shalat menumbuhkan kedekatan dengan Allah, dan sedekah membersihkan harta, maka mendamaikan perselisihan menjaga keberlangsungan harmoni umat.

 

Dalam dunia yang mudah tersulut emosi, memilih menjadi penyejuk adalah bentuk kepemimpinan moral yang sangat dibutuhkan. Sebab pada akhirnya, masyarakat yang damai adalah fondasi bagi kesehatan dan kesejahteraan bersama.

 

Tgk Abdullah

Pos terkait