Ketua DPRD Pekalongan Dorong Forum Netizen Julid Jadi Kanal Aspirasi Rutin

 

Indonesia Investigasi 

PEKALONGAN, — Indonesia investigasi.com – Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, Abdul Munir, menegaskan bahwa Forum Netizen Julid Kabupaten Pekalongan menjadi kanal penting dalam menyalurkan aspirasi masyarakat yang selama ini kerap tersumbat.

Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan “ngumpul bareng” bertajuk Iki Piye Iki Piye Sih atau Kopdar Netizen Julid Kabupaten Pekalongan yang digelar di Landscape Area, Kecamatan Kedungwuni, Rabu (1/4/2026) mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini terbuka untuk seluruh elemen masyarakat tanpa batasan dan berlangsung dalam suasana santai dengan konsep lesehan.

Bacaan Lainnya

Menurut Munir, forum tersebut mampu membuka ruang komunikasi yang lebih luas antara masyarakat dan pemangku kebijakan, khususnya dalam menyampaikan kritik, unek-unek, hingga realita yang terjadi di lapangan.

“Ini kegiatan positif. Temu, dongeng, wadul, gendu-gendu rasa. Saluran yang tersumbat bisa terbuka, pikiran yang tidak bisa disalurkan jadi tersalurkan di sini,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, dalam diskusi yang berlangsung, berbagai isu dibahas, mulai dari konsep pembangunan, niat pembangunan, hingga bagaimana hasil pembangunan dapat dimanfaatkan secara tepat sasaran oleh masyarakat.

Munir juga memberikan masukan agar ke depan kegiatan serupa dapat dikemas lebih fokus dan kreatif agar pembahasan tidak terlalu melebar.

“Ke depan mungkin dikemas lebih santai, lebih kreatif, dan fokus pada satu materi supaya tidak terlalu luas,” katanya.

Ia berharap forum ini bisa menjadi agenda rutin dengan melibatkan lebih banyak unsur masyarakat, seperti tokoh agama, pengusaha, hingga kelompok perempuan.

“Ini bisa jadi kanal untuk menyampaikan perasaan dan pikiran yang selama ini mungkin tidak ada tempat. Di sini kan bebas semua,” tambahnya.

Sementara itu, Plt Bupati Pekalongan, Sukirman, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menilai forum ini sebagai wadah aspirasi yang menarik sekaligus langkah awal membangun komunikasi yang lebih terbuka antara masyarakat dan pemerintah.

“Ini adalah salah satu bentuk penyampaian aspirasi dari teman-teman pelaku media sosial dan masyarakat. Wadah ini cukup menarik, dan ini pertama kalinya saya hadir. Insya Allah akan menjadi komunikasi selanjutnya,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya menjaga kebebasan berpendapat, termasuk kritik terhadap kebijakan pemerintah.

“Tidak boleh ada pembatasan kreativitas, ide, dan gagasan. Sikap kritis terhadap lingkungan maupun kebijakan pemerintah harus tetap jalan, termasuk otokritik kami di pemerintahan,” tegasnya.

Terkait dukungan pemerintah, Sukirman menyebut belum dapat memfasilitasi secara penuh, namun memastikan pola komunikasi yang telah terbangun akan terus berlanjut, termasuk menindaklanjuti usulan masyarakat, khususnya terkait infrastruktur seperti jalan.

“Komunikasi akan kita laksanakan bareng-bareng. Pola komunikasi yang sudah kita buka ini insya Allah akan terus berlanjut. Usulan kegiatan, terutama terkait infrastruktur seperti jalan, akan kita proses dan ikhtiarkan bersama,” tambahnya.

Sementara itu, panitia kegiatan, Handono Warih atau yang dikenal sebagai Abu Waswas, menjelaskan bahwa kegiatan ini awalnya direncanakan secara daring, namun akhirnya digelar secara langsung karena mendapat respons positif dari berbagai pihak.

“Tujuan utamanya silaturahmi dan saling maaf-maafan. Selain itu, ada agenda ‘ngejulid’, yaitu menyampaikan keluh kesah, realita, dan informasi di lapangan kepada pihak terkait,” jelasnya.

Ia mengaku tidak menyangka sejumlah pejabat penting, termasuk Plt Bupati dan Ketua DPRD, bersedia hadir dan berbaur langsung dengan peserta.

“Kami bangga, mereka mau duduk lesehan bersama netizen yang selama ini mungkin dianggap tidak menyenangkan. Ternyata tanggapan beliau justru mengapresiasi bahwa ‘julid’ ini untuk membangun,” ungkapnya.

Handono berharap forum ini dapat terus berlanjut sebagai jembatan komunikasi antara masyarakat dan pemerintah. Ia juga berencana merangkum seluruh aspirasi yang disampaikan, baik secara langsung maupun daring, untuk diteruskan kepada pihak terkait.

“Harapannya komunikasi yang sebelumnya buntu bisa jadi lebih lancar, persepsi bisa diselaraskan, dan ke depan pembangunan bisa sesuai kebutuhan masyarakat, terutama yang mendesak,” ujarnya.

Ia pun mengajak masyarakat untuk terus aktif memberikan kritik yang membangun serta meningkatkan literasi.

“Jangan berhenti memberi kritik yang membangun dan terus berliterasi, agar kita bisa menarik kesimpulan yang lebih bijaksana,” pungkasnya.

 

(Ari )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait