Oleh : Tgk Abdullah bin Rusli
Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar kemewahan, masih ada sekelompok orang yang diam-diam membangun surga lewat kepedulian. Bukan dengan pidato panjang, bukan pula dengan janji-janji besar, tetapi dengan tindakan nyata: menghadirkan rumah layak huni bagi mereka yang selama ini hidup dalam keterbatasan.
Penyerahan Rumah BMU–WPU ke-126 yang dilakukan Ketua Umum Barisan Muda Ummat (BMU), Tgk. H. Muhammad Yusuf M. Nasir atau yang akrab disapa Abiya Jeunieb, bukan sekadar seremonial sosial biasa. Di balik penyerahan kunci itu, tersimpan pesan besar tentang ukhuwah Islamiyah, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama manusia.
Rumah bukan hanya bangunan berdinding semen dan beratapkan seng. Rumah adalah tempat berlindung dari panas dan hujan, tempat anak-anak belajar tentang harapan, dan tempat sebuah keluarga mempertahankan harga dirinya. Ketika seseorang membantu menghadirkan rumah bagi saudara yang membutuhkan, sejatinya ia sedang menjaga martabat manusia.
Rasulullah SAW telah mengingatkan umatnya bahwa iman tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari besarnya rasa cinta kepada sesama. Sabda Nabi SAW:
“Tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini terasa hidup dalam gerakan sosial yang dilakukan BMU–WPU. Ketika banyak orang sibuk memikirkan kepentingannya sendiri, masih ada tangan-tangan yang rela bekerja untuk kebahagiaan orang lain. Masih ada hati yang tergerak melihat penderitaan saudaranya.
Penyerahan rumah tersebut juga menjadi pengingat bahwa dakwah tidak selalu dilakukan di atas mimbar. Kadang dakwah paling menyentuh justru hadir lewat perbuatan nyata. Membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, membangun rumah dhuafa, hingga menjaga persaudaraan adalah bentuk dakwah yang langsung menyentuh hati masyarakat.
Apa yang dilakukan BMU–WPU sesungguhnya sedang menghidupkan nilai besar Islam: rahmat bagi semesta alam. Sebab Islam bukan agama yang hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan manusia dengan manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sayangilah siapa yang ada di muka bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh penghuni langit.”
(HR. At-Tirmidzi)
Kalimat ini sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Bahwa kasih sayang adalah jalan menuju rahmat Allah. Dan di tengah kerasnya kehidupan hari ini, kasih sayang menjadi sesuatu yang mulai langka.
Masyarakat hari ini sebenarnya tidak hanya membutuhkan bantuan materi. Mereka juga membutuhkan kepedulian, perhatian, dan rasa bahwa mereka tidak sendiri menghadapi hidup. Kehadiran BMU–WPU di tengah masyarakat menjadi bukti bahwa ukhuwah Islamiyah masih hidup dan terus dijaga.
Momentum penyerahan Rumah BMU–WPU ke-126 juga mengajarkan bahwa kekuatan umat lahir dari kebersamaan. Ketika masyarakat, tokoh agama, aparat, dan relawan mampu berjalan bersama membantu kaum lemah, maka di situlah wajah Islam yang sesungguhnya terlihat: Islam yang menenangkan, menguatkan, dan menghadirkan harapan.
Mungkin rumah itu sederhana. Namun bagi penerimanya, rumah tersebut adalah jawaban dari doa-doa panjang di sepertiga malam. Adalah tempat berteduh bagi anak-anak yang selama ini hidup dalam kekurangan. Dan bagi mereka yang membantu mewujudkannya, semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga akhir hayat.
Sebab sejatinya, manusia terbaik bukanlah yang paling kaya atau paling terkenal, melainkan mereka yang paling bermanfaat bagi sesama.
“Berbagi untuk Ummat, Mengabdi untuk Bangsa.”







