Indonesia Investigasi
PADANG, Indonesiainvestigasi.com– Kondisi jalan di sepanjang bantaran Sungai Batang Kuranji, tepatnya di belakang Bank Nagari Siteba, Kota Padang, kini memprihatinkan. Semak belukar yang tumbuh liar di sisi kiri dan kanan jalan semakin menutupi badan jalan, sehingga menyulitkan pengendara yang melintas dan dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan.(17/7/2026).
Jalan tersebut kini menjadi salah satu jalur alternatif utama masyarakat sejak putusnya jembatan yang menghubungkan Surau Gadang dengan Sawah Liek Kampung Olo akibat banjir bandang yang melanda Kota Padang beberapa bulan lalu. Akibat putusnya jembatan itu, ribuan warga dari kawasan Siteba, Lapai, Gunung Pangilun hingga sekitarnya memilih menggunakan jalur bantaran sungai untuk menuju Surau Gadang maupun Gurun Laweh.
Selain menjadi akses yang lebih dekat, jalan tersebut juga menjadi jalur favorit bagi orang tua yang setiap pagi dan siang mengantar serta menjemput anak-anak mereka yang bersekolah di Pondok Pesantren Dar El-Iman dan SMAN 12 Padang.
Namun, tingginya intensitas kendaraan yang melintas tidak sebanding dengan kondisi jalan yang kini dipenuhi semak belukar. Ranting dan tanaman liar telah mempersempit badan jalan sehingga kendaraan roda dua maupun roda empat harus ekstra hati-hati ketika berpapasan.
Tak hanya itu, deretan pohon jati berukuran besar yang berada di sepanjang jalur tersebut juga mulai mengkhawatirkan. Pohon-pohon yang sudah tua dan minim perawatan dikhawatirkan sewaktu-waktu tumbang, terutama saat hujan deras disertai angin kencang.
Salah seorang pengguna jalan, Budi, mengaku sangat menyayangkan kondisi jalur alternatif tersebut.
“Kalau pagi hari jalan ini sangat ramai. Banyak motor dan mobil yang mengantar anak sekolah melewati jalur ini. Tapi sekarang kondisinya sangat memprihatinkan. Semak belukar sudah memenuhi kiri kanan jalan sehingga badan jalan semakin sempit dan terkesan angker. Ditambah lagi pohon-pohon jati yang sudah besar dan tidak pernah dipangkas. Ini sangat membahayakan kalau hujan dan angin kencang,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Anto, warga yang setiap hari menggunakan jalur tersebut.
Ia bahkan mengaku pernah nyaris menjadi korban pohon tumbang saat mengantar anaknya ke sekolah.
“Beberapa waktu lalu saya lewat saat cuaca mendung dan angin cukup kencang. Tiba-tiba sekitar seratus meter di depan saya, dahan pohon jati patah dan jatuh ke jalan. Saya benar-benar terkejut. Alhamdulillah saya belum sampai di lokasi itu. Kalau terlambat sedikit saja, mungkin saya sudah tertimpa pohon,” ungkap Anto.
Menurutnya, kejadian tersebut menjadi peringatan bahwa kondisi jalur tersebut sudah tidak aman jika dibiarkan tanpa perawatan.
Anto berharap Pemerintah Kota Padang, khususnya Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Lingkungan Hidup, serta Pemerintah Kecamatan Nanggalo segera turun tangan melakukan pembersihan semak belukar sekaligus memangkas pohon-pohon jati yang berpotensi membahayakan pengguna jalan.
“Kami berharap pemerintah segera membersihkan semak belukar dan memangkas pohon-pohon yang sudah tua. Jangan menunggu ada korban baru dilakukan tindakan. Jalan ini sekarang menjadi urat nadi masyarakat sejak jembatan Surau Gadang putus akibat banjir bandang,” tegasnya.
Warga menilai jalur bantaran Sungai Batang Kuranji kini memiliki peran strategis sebagai akses penghubung antarwilayah. Karena itu, mereka meminta pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur baru, tetapi juga memperhatikan pemeliharaan jalur alternatif yang setiap hari digunakan masyarakat.
Dengan kondisi jalan yang semakin sempit, dipenuhi semak belukar, serta ancaman pohon tumbang, masyarakat berharap keluhan ini segera mendapat perhatian serius sebelum terjadi kecelakaan atau musibah yang merenggut korban jiwa.
( Ermawati )
