Ditulis oleh: Muhammad Ramadhanur Halim, S.H.I.
SEJARAH Aceh selalu menempatkan kepemimpinan sebagai ujian amanah. Penunjukan Sunny Iqbal Muallem di PGE kini menjadi sorotan publik. Sebagian melihatnya sebagai regenerasi, sebagian menilai nepotisme. Namun jalan tengahnya adalah “mendukung dengan syarat serta tetap kritis dalam mengawal, agar regenerasi tidak kehilangan makna dan integritas tetap tegak di ruang publik.”
Dalam sejarah para sahabat Nabi dipilih bukan hanya sekadar dekat, tapi karena kapasitas. Abu Bakar dan Umar menegaskan amanah sebagai dasar legitimasi kuat. Utsman dan Ali menunjukkan kepemimpinan harus dibuktikan dengan amal. Preseden ini mengajarkan bahwa “darah saja tak cukup tanpa integritas dan amanah harus dijalankan dengan keadilan serta tanggung jawab nyata.”
Sultan Iskandar Muda menjadi teladan, pewaris tahta merupakan seorang yang visioner. Ia memperluas pengaruh Aceh dengan strategi, keberanian dan keadilan. Kepemimpinan bangsawan harus dibuktikan dengan kapasitas nyata di tengah sorotan publik. Sunny kini berada di persimpangan yang sama, diuji oleh sejarah Aceh, apakah ia mampu menegaskan kapasitas atau sekadar simbol politik?
Legitimasi politik dari ayahnya memberi Sunny posisi yang kuat. Namun legitimasi itu harus diuji dengan transparansi dan akuntabilitas. Tanpa kapasitas, jabatan hanya akan menjadi simbol nepotisme belaka. Dengan kapasitas, jabatan bisa menjadi regenerasi yang bermakna serta nyata, sehingga membawa energi baru bagi sektor strategis Aceh.
Jalan tengah berarti mendukung regenerasi kepemimpinan muda Aceh. Tetapi syaratnya haruslah jelas: transparansi, akuntabilitas dan inovasi yang nyata. Sunny harus berani menghadirkan energi baru di sektor strategis Aceh. Masyarakat harus mengawal agar amanah ini tidak berubah jadi privilese, melainkan menjadi tanggung jawab yang menghasilkan manfaat bagi publik.
Narasi dukungan dan kritik terus mengalir seperti sungai, menyejukkan dan memanaskan publik. Bukan ibarat ombak yang memecah belah, melainkan arus yang menyatukan visi. Dukungan memberi legitimasi, kritik memberi kontrol yang seimbang. Keduanya harus berjalan bersama demi kepemimpinan yang matang, agar regenerasi tidak kehilangan makna dan integritas tetap tegak.
Sunny harus menyadari bahwasanya jabatan tersebut bukanlah sebagai hadiah, melainkan sebuah amanah berat. Amanah itu harus dijalankan dengan penuh integritas dan kapasitas. Seperti sahabat Nabi yang diuji dengan amanah, ia diuji dengan publik. Seperti Sultan Aceh yang diuji dengan kapasitas, ia diuji dengan hasil yang akan menentukan catatan sejarah kepemimpinannya.
Masyarakat Aceh berhak menuntut syarat-syarat integritas tersebut harus ditegakkan. Dukungan tanpa syarat akan melahirkan kekecewaan dan melemahkan publik. Kritik tanpa arah akan melahirkan polarisasi dan menghambat regenerasi. Jalan tengahnya adalah “dukungan bersyarat, kritik tegas, agar kepemimpinan muda tetap terjaga dalam bingkai integritas.”
Preseden sejarah telah menunjukkan bahwasanya legitimasi harus disertai dengan kapasitas. Sunny kini berada dalam ujian yang sama di hadapan masyarakat Aceh. Jika ia berhasil, maka penunjukan ini jadi preseden baik bagi generasi muda. Jika ia gagal, maka penunjukan ini akan menjadi preseden buruk bagi tata kelola Aceh, sehingga akan melemahkan kepercayaan publik terhadap BUMD.
Masyarakat Aceh harus mengambil jalan tengah yang paling bijak. Mendukung regenerasi, tetapi tetap menuntut integritas dan transparansi. Dengan begitu, energi baru akan hadir tanpa mengorbankan tata kelola yang baik. Narasi ini merupakan sebuah ajakan untuk berpikir jernih dan menghindari polarisasi, agar kepemimpinan tetap bermakna bagi masa depan Aceh.
Seperti sahabat Nabi yang menegaskan amanah, Sunny harus menegaskan integritas. Seperti Sultan Aceh yang menegaskan kapasitas, Sunny harus menegaskan inovasi. Jalan tengahnya adalah menjaga agar regenerasi tidak kehilangan makna sejatinya. Jalan tengah yang tetap menjaga agar integritas tetap tegak di ruang publik Aceh, demi kepemimpinan yang berdaya guna.
Dengan jalan tengah ini, Aceh bisa maju melalui energi baru yang bersih. Dengan jalan tengah ini, regenerasi bisa berhasil tanpa adanya nepotisme secara nyata. Dengan jalan tengah ini, integritas bisa ditegakkan dalam kepemimpinan. Sejarah akan mencatat sesuai dengan tindakannya, publik akan menilai dan generasi muda akan belajar dari preseden ini.
Sunny kini diuji oleh sejarah, oleh masyarakat dan oleh amanah jabatan. Ujian itu harus dijawab dengan integritas, kapasitas dan keberanian. Masyarakat harus mendukung dengan syarat, mengawal dengan kritis. Jalan tengah ini adalah jalan yang paling bijak untuk Aceh ke depan, agar kepemimpinan muda tidak kehilangan arah dan makna.
Banda Aceh, 30 Maret 2026
M12H







