Oleh: Tgk Abdullah
Ramadhan terus melangkah. Tak terasa, kita telah memasuki hari dan malam ke-13. Separuh perjalanan menuju puncak kemuliaan semakin dekat. Pertanyaannya, sudah sejauh mana hati ini dibersihkan? Sudah seberapa sungguh-sungguh ibadah kita ditingkatkan?
Bulan suci ini adalah bulan rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ: “Barang siapa berpuasa Ramadhan dan menegakkan (shalat malam) karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hadis ini diriwayatkan oleh Muhammad dan menjadi fondasi harapan bagi setiap mukmin.
Pada malam ke-13, disebutkan bahwa bagi orang yang berpuasa, hisabnya akan dipermudah. Betapa besar nikmat ini. Hisab adalah momen yang paling mendebarkan dalam kehidupan akhirat. Saat seluruh amal dipertontonkan tanpa bisa disembunyikan. Di sanalah keadilan Allah ditegakkan dengan sempurna.
Namun Ramadhan memberi kita peluang luar biasa. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan kesabaran, kejujuran, dan pengendalian diri. Puasa melatih kita untuk jujur meski tak ada manusia yang melihat. Dan kejujuran itulah yang meringankan timbangan amal.
Sementara itu, pada malamnya kita berdiri dalam shalat tarawih. Disebutkan bahwa malaikat menjadi saksi atas amal orang yang menegakkan tarawih. Bayangkan, amal kita dicatat bukan hanya oleh malaikat pencatat biasa, tetapi disaksikan dengan kemuliaan. Kesaksian para malaikat adalah kehormatan yang luar biasa.
Tarawih bukan sekadar rutinitas musiman. Ia adalah momentum pembuktian cinta kepada Allah. Di saat tubuh letih, mata mengantuk, dan dunia menawarkan kenyamanan, seorang mukmin tetap berdiri, rukuk, dan sujud. Di situlah letak kemuliaan iman.
Malam ke-13 mengajarkan kita dua hal penting: harapan dan kesaksian. Harapan bahwa hisab kita dipermudah. Kesaksian bahwa amal kita tidak sia-sia. Tidak ada sujud yang terbuang, tidak ada doa yang melayang tanpa makna.
Sebagai masyarakat yang religius, mari kita jadikan Ramadhan bukan hanya tradisi tahunan, tetapi revolusi spiritual. Jangan biarkan malam-malamnya berlalu tanpa tilawah, tanpa munajat, tanpa air mata taubat.
Karena sejatinya, yang kita cari bukan sekadar lelahnya berpuasa, tetapi ringan saat dihisab. Bukan sekadar ramai di masjid, tetapi diakui oleh para malaikat sebagai hamba yang bersungguh-sungguh.
Semoga di malam ke-13 ini, Allah mempermudah hisab kita, menerima tarawih kita, dan menjadikan kita hamba-hamba yang kembali kepada-Nya dalam keadaan bersih.
Ramadhan masih berjalan. Jangan lelah memperbaiki diri. Jangan berhenti berharap pada rahmat-Nya. 🌙
