Fadhilah Puasa & Tarawih Ramadhan ke-6

 

“Meneguhkan Iman, Menguatkan Perlindungan Rohani”

OLEH : Tgk Abdullah

Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah ruhani, tempat setiap jiwa ditempa untuk kembali jernih, tunduk, dan dekat kepada Allah ﷻ. Di bulan yang penuh rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka ini, umat Islam diajak untuk memperkuat iman melalui puasa di siang hari dan qiyamul lail—termasuk tarawih—di malam hari.

Bacaan Lainnya

 

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa berpuasa Ramadhan dan menegakkan (shalat malam) karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hadis ini bukan sekadar janji, tetapi motivasi besar agar setiap amal dilakukan dengan dua fondasi utama: iman dan ikhlas mengharap ridha Allah.

 

Memasuki hari ke-6 Ramadhan, terdapat pesan spiritual yang dalam. Puasa hari ini diibaratkan berpahala seperti thawaf di Baitul Ma’mur—sebuah simbol ketaatan dan penghambaan total kepada Allah. Thawaf melambangkan gerak hidup yang berpusat hanya kepada-Nya. Artinya, puasa bukan hanya menahan diri dari yang membatalkan, tetapi mengarahkan seluruh orientasi hidup agar berporos pada nilai-nilai ilahiah.

 

Sementara itu, tarawih pada malam keenam digambarkan sebagai penjagaan dari godaan setan. Dalam realitas kehidupan modern, godaan tidak hanya hadir dalam bentuk maksiat yang kasat mata, tetapi juga berupa kelalaian, kesombongan, cinta dunia berlebihan, dan lemahnya kepedulian sosial. Tarawih menjadi benteng spiritual—menguatkan hati, menenangkan pikiran, dan meneguhkan langkah agar tidak mudah tergelincir.

 

Puasa membentuk ketahanan diri, sedangkan tarawih memperhalus jiwa. Puasa melatih pengendalian hawa nafsu, tarawih menumbuhkan kedekatan dengan Sang Pencipta. Keduanya adalah satu paket ibadah yang saling melengkapi: siang hari menahan diri, malam hari menguatkan hati.

 

Momentum hari keenam ini seharusnya menjadi pengingat bahwa kualitas Ramadhan tidak diukur dari seberapa banyak hari yang telah berlalu, melainkan seberapa dalam perubahan yang mulai tumbuh dalam diri. Apakah hati semakin lembut? Apakah lisan semakin terjaga? Apakah kepedulian kepada sesama semakin nyata?

 

Ramadhan adalah perjalanan. Dan setiap hari adalah tangga menuju ketakwaan. Semoga puasa kita bernilai seperti thawaf yang penuh kepasrahan, dan tarawih kita menjadi penjaga dari segala godaan yang melemahkan iman.

 

Karena pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya tentang satu bulan dalam setahun—tetapi tentang membangun jiwa yang bertahan dalam kebaikan sepanjang tahun.

 

Pos terkait