“Fahala Puasa Seperti Shalat di Tiga Masjid Suci dan Fahala Tarawih Diberikan Kebaikan Dunia Akhirat”
Memasuki hari kelima Ramadhan, semangat ibadah seharusnya tidak lagi sekadar euforia awal bulan, melainkan mulai bertransformasi menjadi kebutuhan ruhani. Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang membentuk ulang jiwa agar lebih dekat kepada Allah.
Dalam hadis sahih riwayat Muhammad ﷺ yang tercantum dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, beliau bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan dan menegakkan (shalat malam) karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Hadis ini menegaskan bahwa kualitas iman dan keikhlasan menjadi ruh dari setiap ibadah. Puasa tanpa iman hanya menjadi rutinitas biologis. Tarawih tanpa harap pahala hanya menjadi gerakan fisik. Namun ketika keduanya dilakukan dengan keyakinan penuh dan harapan akan ridha Allah, di situlah rahmat turun dan ampunan terbuka luas.
🌿 Puasa Hari ke-5: Menguatkan Spiritualitas
Disebutkan bahwa pahala puasa hari kelima diibaratkan seperti shalat di tiga masjid suci: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsa.
Tiga masjid ini bukan sekadar bangunan, tetapi simbol kemuliaan, sejarah perjuangan para nabi, dan pusat spiritual umat Islam. Perumpamaan ini mengajarkan bahwa setiap detik puasa yang kita jalani memiliki nilai yang sangat agung di sisi Allah, meskipun secara fisik kita berada jauh dari Tanah Suci.
🌙 Tarawih: Investasi Dunia & Akhirat
Shalat Tarawih di malam kelima diyakini membawa kebaikan dunia dan akhirat. Artinya, keberkahan ibadah tidak hanya dirasakan dalam kehidupan setelah mati, tetapi juga dalam keseharian: hati lebih tenang, rezeki terasa cukup, hubungan sosial lebih harmonis.
Tarawih melatih konsistensi. Berdiri lebih lama dalam doa, membaca ayat-ayat Allah dengan khusyuk, serta merasakan kebersamaan dalam saf-saf shalat adalah proses penyucian jiwa. Dunia boleh penuh kegaduhan, tetapi malam Ramadhan menawarkan ketenangan yang tidak tergantikan.
✨ Refleksi
Hari kelima adalah momentum evaluasi:
Apakah puasa kita sudah menjaga lisan?
Apakah tarawih kita sudah menghadirkan hati?
Apakah Ramadhan ini mengubah akhlak kita?
Ramadhan bukan hanya target khatam Al-Qur’an atau penuh hadir di masjid. Lebih dari itu, Ramadhan adalah perjalanan memperbaiki diri. Jika hari kelima ini kita mampu menjaga keikhlasan, insyaAllah hari-hari berikutnya akan semakin ringan dan penuh cahaya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mendapatkan rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka. Aamiin. 🌙







