Fadhilah Puasa dan Tarawih Ramadhan Hari ke-2: Menguatkan Doa untuk Diri dan Orang Tua

 

Oleh : Tgk Abdullah 

BULAN suci Ramadhan kembali menyapa umat Islam dengan limpahan rahmat, maghfirah, dan janji pembebasan dari api neraka. Di bulan yang penuh keberkahan ini, setiap detik ibadah bernilai pahala, setiap doa berpeluang dikabulkan, dan setiap air mata taubat menjadi saksi kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya.

 

Bacaan Lainnya

Sebagaimana sabda Muhammad ﷺ:

 

“Barang siapa berpuasa Ramadhan dan menegakkan (shalat malam) karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

 

 

 

Memasuki Ramadhan hari ke-2, umat Islam diajak untuk tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk maksiat lahir dan batin. Puasa bukan hanya ritual tahunan, melainkan proses penyucian jiwa yang mendalam.

 

Puasa: Ampunan untuk Diri dan Orang Tua

 

Dalam berbagai riwayat dan penjelasan ulama tentang keutamaan hari-hari Ramadhan, disebutkan bahwa pada hari kedua, Allah menganugerahkan ampunan bukan hanya bagi yang berpuasa, tetapi juga bagi kedua orang tuanya yang mukmin.

 

Betapa besar kasih sayang Allah. Ibadah personal yang kita lakukan ternyata berdampak spiritual bagi orang tua. Ini menjadi pengingat bahwa bakti kepada ayah dan ibu tidak hanya diwujudkan melalui materi dan perhatian, tetapi juga lewat doa dan kesungguhan ibadah.

 

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, sering kali kita lalai mendoakan orang tua—baik yang masih hidup maupun yang telah berpulang. Ramadhan hari ke-2 menjadi momentum untuk memperbanyak istighfar dan menghadiahkan doa terbaik bagi mereka.

 

Tarawih: Saat Malaikat Memohonkan Ampunan

 

Shalat tarawih pada malam kedua Ramadhan juga menyimpan keutamaan luar biasa. Disebutkan bahwa malaikat memohonkan ampun bagi orang yang menegakkan tarawih dengan penuh keimanan dan harapan akan pahala.

 

Bayangkan, makhluk yang tidak pernah bermaksiat justru memintakan ampun untuk manusia yang penuh kekhilafan. Ini adalah bentuk kemuliaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang mau bersungguh-sungguh di malam Ramadhan.

 

Tarawih bukan sekadar rutinitas yang menggugurkan kewajiban sosial. Ia adalah ruang sunyi untuk memperbaiki diri, memperbanyak doa, dan mempererat ukhuwah di masjid-masjid yang kembali ramai oleh jamaah.

 

Momentum Muhasabah

 

Ramadhan hari ke-2 hendaknya menjadi titik awal kesungguhan. Jangan sampai semangat hanya membara di awal bulan, lalu meredup sebelum pertengahan. Justru sejak hari-hari pertama inilah fondasi ibadah harus diperkuat.

 

Mari kita jadikan puasa sebagai sarana membersihkan hati, dan tarawih sebagai cahaya penerang jiwa. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta melimpahkan rahmat-Nya kepada kedua orang tua kita.

 

Ramadhan bukan sekadar datang dan pergi, tetapi kesempatan emas yang mungkin tak kembali di tahun depan. Maka, jangan sia-siakan Ramadhan hari ke-2 ini tanpa makna. 🌙

Pos terkait